Harga Tiket Pesawat Meroket: Penumpang Mengaku Stress, Maskapai Diminta Lakukan Penyesuaian Tarif

Ia masih tidak percaya tiket H-7 Idul Fitri yang biasa dibelinya pada tahun-tahun sebelumnya, harganya selangit

Harga Tiket Pesawat Meroket: Penumpang Mengaku Stress, Maskapai Diminta Lakukan Penyesuaian Tarif
TRIBUNJAKARTA.COM/EGA ALFREDA
Parking stand pesawat di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. 

Dia menuturkan, penentuan dasar tarif tak hanya karena satu faktor tetapi berbagai faktor lain seperti biaya operasional penerbangan, jasa kebandarudaraan (PSC), jasa pelayanan navigasi penerbangan, pajak, asuransi dan lainnya. Komponen ini pun turut dipengaruhi kurs dollar.

Sebagai catatan, penurunan tarif batas atas ini dilakukan kepada penerbangan yang memberikan pelayanan dengan standar maksimum (full services) tetapi juga kepada penerbangan bertarif rendag (low-cos carrier/LCC).

Demo Tiket Pesawat Mahal, Sejumlah Massa Bakar Ban di Depan Kantor Kemenhub

Pemudik dengan Bus Diprediksi Naik 20 Persen Dibanding Tahun Lalu karena Tiket Pesawat Mahal

Sederet Cara Unik Bangunkan Sahur Saat Ramadan, Pakai Pesawat Tempur hingga yang Mengocok Perut

Pengguna Transportasi Pesawat Mengeluh Harga Tiket Naik Dua Kali Lipat Jelang Ramadan

Maskapai Tertekan

Menanggapi kebijakan tersebut, maskapai penerbangan Garuda Indonesia mengaku berada di kondisi semakin tertekan.

"Jadi memang dengan rencana penurunan yang TBA hingga 16 persen, itu tentu saja semakin menekan Garuda," ujar VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan saat dihubungi, Selasa (14/5/2019) malam.

Ikhsan menjelaskan, selama lebih tiga tahun terakhir, pemerintah tidak pernah menyesuaikan tarif batas atas maupun tarif batas bawah tiket pesawat.

Padahal, biaya yang perlu dikeluarkan maskapai terus membengkak, akibat kenaikan harga avtur hingga pelemahan nilai tukar rupiah.

"Dengan situasi itu, sebenarnya struktur cost Garuda itu memang harus bermain di sekitar TBA," jelas Ikhsan.

"Nah itupun yield (keuntungan) yang kita dapat sekitar 2 persen. Karena memang maskapai marginnya tipis," imbuhnya.

Dengan penurunan TBA dari regulator, perusahaan maskapai berpelat merah itu mengaku harus memutar otak untuk mengurangi biaya operasional perusahaan.

"Kita memang harus menekan cost untuk bisa bertahan hidup. Cost-cost yang kita tekan itu pasti cost yang di luar berkaitan safety (keselamatan penumpang) atau kesejahteraan karyawan. Yang dua itu tidak boleh diganggu gugat," tegas Ikhsan.

"Otomatis kita mengacu ke cost lain, misalnya pelayanan mungkin akan kita sesuaikan. Layanan kita kan full service, ya mungkin berkaitan dengan layanan full service kita sesuaikan dengan penekanan TBA di 12-16 persen ini," pungkasnya. (Tribunnnews.com/Kompas.com/Kontan)

Penulis: MuhammadZulfikar
Editor: Muhammad Zulfikar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved