Kretek Indonesia Diminati Konsumen Luar Negeri

rokok jenis kretek yang saat ini dikenal ditengah masyarakat merupakan industri yang memiliki nilai historis yang cukup tinggi.

Kretek Indonesia Diminati Konsumen Luar Negeri
KOMPAS.com/ Ahmad Winarno
Petani tembakau di Desa Pekauman Kecamatan Grujugan Bondowoso, Jawa Timur 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Industri Hasil Tembakau (IHT) yang notabenenya industri yang konsen menghasilkan rokok jenis kretek yang saat ini dikenal ditengah masyarakat merupakan industri yang memiliki nilai historis yang cukup tinggi.

"Kretek itu ciptaan orang Indonesia. Beda dengan rokok biasa, kretek itu berbahan baku tembakau dan cengkeh. Dulu, ada orang namanya Haji Djamhari yang mengalami sesak nafas, dan membuat racikan tembaku dengan cengkeh untuk meredakan sesaknya, yang kini dikenal dengan nama kretek," ujar Aditia Purnomo, Ketua Komunitas Kretek dalam keterangannya, Kamis (23/5/2019).

Dijelaskannya, kretek merupakan bagian dari produk budaya, meski begitu, tidak ada keharusan juga untuk melestarikannya.

Sebab, menurutnya, tanpa harus dilestarikan pun kretek sudah menjadi bagian hidup terpenting bagi sebagain masyarakat Indonesia.

"Menurut saya enggak perlu segitunya. Sebagai produk budaya, kretek itu kan dekat dengan kehidupan masyarakat. Baik yang hidup darinya (petani, buruh, dan sebagainya) atau yang hidup bersamanya (konsumen dan masyarakat). Jadi, tanpa perlu diupayakan agar lestari, selama Ia masih menjadi bagian hidup kretek tidak akan hilang. Begitu menurut saya," ujarnya.

Sebagai informasi, kata dia, tak hanya diminati atau disukai masyarakat sendiri, kretek juga banyak diminati orang luar.

"Sebenarnya kretek itu diminati banyak konsumen di luar negeri. Hanya karena aturan dagang (seperti di Amerika) saja yang membuat kretek sulit menembus pasar di sana," ungkap Aditia.

Selain itu, lanjut dia, keberadaan industri kretek juga turut membantu memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

"Untuk tenaga kerja, berdasar data kemenperin total yang terlibat di sektor Industri Hasil Tembakau (IHT) ada di kisaran 5,9 juta orang. Itu tidak dihitung para pekerja yang secara tidak langsung terkibat di industri ini," terang dia.

Saat ditanya seberapa besar kontribusi IHT terhadap pemasukan negara, ia mengatakan bahwa turut menyumbang dalam cukai dan PPN.

Pemerintah Diminta Bantu Ketersediaan Bahan Baku Tekstil

"Pemasukan negara (cukai dan ppn) dan daerah (pajak rokok). Itu di luar serapan tenaga kerja, dan pemasukan lain dari pajak perusahaan juga pekerjanya," kata dia.

Lebih lanjut Aditia berharap agar regulasi terkait sektor IHT lebih diperhatikan lagi oleh para pemangku kebijakan.

"Untuk IHT secara keseluruhan, tentu saja kebijakan. Kalau pekerja (sektor manufaktur) ya kesejahteraan pekerja. Secara umum, kebijakan kesejahteraan pekerja ini kan memang buruk, ya aturan itu juga berdampak pada hidup buruh rokok kretek. Selama UMK rendah, ya gaji semua pekerja bakal tetap rendah," kata dia.

Menurutnya, terkait kebijakan yang perlu diperhatikan lagi yaitu soal kebijakan menaikkan tarif cukai yang mestinya dikaji secara mendalam oleh para stakeholder terkait.

"Kebijakan yang pertama itu maksudnya soal kenaikan tarif cukai, kebijakan pengendalian konsumsi, iklan, dan sebagainya. Kalaupun naik, harus dihitung dengan cermat. Dinilai kemampuan industri, pasar, dan besaran kebutuhan. Jangan sampai naik terlalu tinggi lalu industri mati," tuturnya.

Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved