Aksi 22 Mei

Wali Kota Airin Berduka dan Turut Berduka Kepada Keluarga Korban Tewas Kericuhan di Aksi 22 Mei

Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany menyoroti kesedihan keluarga korban tewas imbas kerusuhan aksi 22 Mei lalu.

Wali Kota Airin Berduka dan Turut Berduka Kepada Keluarga Korban Tewas Kericuhan di Aksi 22 Mei
TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAN TOHIR
Wali Kota Tangsel, Airin Rachmi Diany bersama perwakilan Pokja wartawan harian Tangsel dan anak-anak yatim saat acara buka puasa bersama di Pesantren Multimedia Almuqriyah, Pondok Aren, Jumat (24/5/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNKAKARTA.COM, PONDOK AREN - Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany menyoroti kesedihan keluarga korban tewas imbas kerusuhan aksi 22 Mei lalu.

Diberitakan TribunJakarta.com sebelumnya, ada delapan korban jiwa dari kericuhan di ibu kota itu, termasuk Sandro (30) warga Serpong, Tangsel, yang berasal dari Jambi.

Sandro bukanlah peserta aksi yang berujung ricuh itu. Ia hanya pedagang pakaian di Pasar Tanah Abang.

Pria dua anak itu meninggal akibat peluru nyasar yang bersarang di dadanya, meskipun sudah mendapat perawatan medis di RSUD Tarakan, Cideng, Jakarta Pusat.

"Tadi malam saya mendapat informasi dari pihak kepolisian ada yang meninggal di wilayah Serpong," ujar Airin selepas buka puasa bersama di Pesantren Multimedia Almuqriyah, Pondok Aren, Jumat (24/5/2019).

Airin mengaku sudah memerintahkan camat setempat untuk mendalami sebab meninggalnya Sandro, namun pihak keluarga sudah menuju Jambi untuk memakamkan jenazah Sandro.

"Yang saya pikirkan begini lho. Ini kan bulan suci Ramadan, Lebaran, kalau ada apa-apa, keluarga lagi yang sedih," ujarnya.

Airin berharap warganya lebih hati-hati dalam bepergian, terlebih ke wilayah yang kondisinya sedang tidak kondusif.

"Namanya ajal kita enggak pernah tahu, tapi kan kita bisa menghindari. Mari sama-sama kita antisipasi keadaan," ujarnya.

Sedangkan bagi warganya yang hendak berunjuk rasa, Airin meminta agar menaati segala peraturan yang ada.

Baginya, hak menyampaikan pendapat juga memiliki konsekuensi kewajiban mematuhi aturan.

"Jadi harapannya, patuhi, ikuti, pedomani, aturan dan ketentuan yang berarti. Saya cuma bisa mengimbau begitu," ujarnya.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved