Aksi 22 Mei

Dana Beli Senjata untuk Membunuh 4 Tokoh Nasional Berupa Pecahan Dolar Singapura

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo menyatakan Pemberian uang pecahan dolar Singapura untuk membunuh tokoh nasional

Dana Beli Senjata untuk Membunuh 4 Tokoh Nasional Berupa Pecahan Dolar Singapura
YouTube Kompas TV
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Dedi Prasetyo saat jumpa pers, di Jakarta, pada Jumat (24/5/2019). 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Uang yang diberikan pendana kepada koordinator lapangan untuk membunuh tokoh nasional berupa pecahan dolar Singapura.

Hal itu disampaikan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Selasa (28/5/2019).

"Ada enam tersangka ini, enam kan ada leadernya, di situ kan ada aktor intelektual yang mendesain semua itu. Di atas ada pendana juga yang kasih uang Rp 150 juta tapi dalam bentuk dollar Singapura, kasih ke aktor intelektual. Kasih kan ke ini nih (ke para tersangka)," kata Dedi.

Dedi mengatakan, uang tersebut diberikan kepada HK selaku tersangka yang bertugas sebagai koordinator lapangan, untuk membeli senjata.

Ia mengatakan nantinya uang untuk honor bagi para eksekutor akan diberikan lagi di luar Rp 150 juta yang digunakan untuk membeli senjata.

"Bukan, honor untuk aksi dikasih lagi. Rp 150 juta itu buat beli senjata. Baru Rp 50 juta dapat senjata, sisanya untuk beli senpi laras panjang. Kalau laras pendek kan ada empat tuh," lanjut Dedi.

Polri Dianggap Tidak Netral oleh Kubu 02, Dedi Prasetyo: Silakan Dibuktikan di Persidangan

Polri Periksa 17 Saksi Terkait Penembakan di Mako Brimob Purwokerto

Polri Sebut Motif Pembakaran Asrama Brimob untuk Rampas Senjata Api

Polisi mengungkap adanya kelompok pihak ketiga yang ingin menciptakan martir dalam aksi menolak hasil pilpres pada 22 Mei 2019 di depan gedung Bawaslu, Jakarta.

Selain itu, kelompok ini juga diduga berniat melakukan upaya pembunuhan terhadap empat pejabat negara dan seorang pemimpin lembaga survei.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal menjelaskan, kronologi upaya pembunuhan ini bermula sejak 1 Oktober 2018.

Saat itu, HK mendapat perintah seseorang untuk membeli senjata.

Halaman
12
Editor: Satrio Sarwo Trengginas
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved