Ramadan 2019

Puasa dan Persaudaraan

Seseorang berpuasa tak boleh melayani kemarahan dirinya dan orang lain, dan cukup berikrar bahwa dirinya dalam keadaan berpuasa.

Puasa dan Persaudaraan
Istimewa
KH Cholil Nafis berbuka puasa bersama keluarga besar BIN. 

Oleh: KH Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Saat saya dipersilahkan untuk menyampaikan taushiyah pada acara buka puasa bersama Keluarga Besar Badan Intelijen Negara (BIN), pembawa acara menjelaskan waktu Magrib pukul 17.47 WIB.

Saya pun diminta menyesuaikan waktunya. 

Saat berdiri di depan podium setelah mengucapkan salam dan menyapa pimpinan BIN, saya langsung menyampaikan bahwa penceramah harus tahu diri.

Sebab penceramah yang tak berhenti saat Magrib tiba maka tak ada jemaah yang mendengarkan.

Umat Muslim itu paling disiplin saat masuk waktu buka puasa. Bahkan telah siap-siap sebelum waktunya tiba dengan aneka hidangan.

Seandainya umat Muslim sedisiplin berbuka puasa maka seluruh dunia Islam akan maju. Sebab tanda-tanda negara maju adalah menghargai waktu dan berkerja tepat waktu.

Buka puasa bersama di Indonesia adalah akomodasi keagamaan dengan kearifan lokal. Di mana ibadah buka puasa dan memberi buka puasa kepada yang lain menjadi sarana silaturrahim untuk mengeratkan hubungan persaudaraan dan persatuan.

Saat acara buka bersama dapat dihadiri dan bahkan mengundang orang yang tak berpuasa sekalipun, namun ikut bersama berbuka puasa dalam rangkan mengikat tali persaudara sebangsa dan se tanah air.

Tak sedikit dari ritual buka puasa yang dihadir oleh non-Muslim, baik juga terjadi dalam acara buka puasa kenegaraan atau pertemanan.

Halaman
12
Penulis: Y Gustaman
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved