Hindari Panas Terik dan Macet,Yanto Pilih Berangkat Mudik Malam Hari

Yanto (24), yang sudah enam tahun merantau dari kampung halamannya, Kabupaten Brebes ke ibu kota mengaku memilih berangkat di malam hari

Hindari Panas Terik dan Macet,Yanto Pilih Berangkat Mudik Malam Hari
TribunJakarta.com/Bima Putra
Yanto (24) saat ditemui di Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (30/5/2019). TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, DUREN SAWIT - Meski berbahaya, mengawali perjalanan di malam hari selepas berbuka puasa atau dini hari usai sahur jadi kebiasaan di kalangan pemudik sepeda motor yang terus bertahan.

Yanto (24), yang sudah enam tahun merantau dari kampung halamannya, Kabupaten Brebes ke ibu kota mengaku memilih berangkat di malam hari karena terhindar dari sengat matahari.

"Soalnya lebih adem, kalau siang kan panas. Kalau berangkat malam enggak terlalu macet juga, jadi enggak capek dan boros bensin," kata Yanto di Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (30/5/2019).

Dari huniannya di kawasan Blok M, Jakarta Selatan Yanto mulai memacu sepeda motornya sekira pukul 20.30 WIB tak lama usai menunaikan ibadah Salat Tarawih.

Prediksi arus lalu lintas di malam hari lebih lancar terbukti karena pukul sekira pukul 21.10 WIB Yanto sudah melintas di Jalan Arteri Kalimalang bersama ratusan pemudik sepeda motor lainnya.

Tetap Tampil Cantik Saat Mudik? Simak Tips Make Up dan Outfitnya!

Polres Tangsel Konsentrasi Pengamanan Arus Mudik di Jalan Raya Bitung

Bermodalkan Kunci Leter T hingga 5 Kali Beraksi, Komplotan Curanmor Berhasil Dibekuk Polisi

"Biasanya sekali jalan tiga kali istirahat, istirahatnya enggak tentu. Kadang setengah jam, kadang 15 menit. Soalnya saya kan enggak bawa minuman atau makanan. Jadi kalau lapar ya harus cari warung," ujarnya.

Merujuk pengalaman mudik menggunakan sepeda motor di tahun lalu, pria yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online ini memperkirakan butuh waktu sekira enam jam sampai di Brebes.

Guna memangkas waktu dan faktor keselamatan, Yanto memilih hanya membawa satu tas ransel besar yang dia letakkan di bagian tengah antara setang dan jok.

Di sana, istri dan kedua buah hatinya sudah menanti kedatangan Yanto agar dapat merayakan hari raya Idul Fitri dalam kondisi keluarga yang utuh.

"Sengaja enggak bawa barang banyak, hanya pakaian untuk di kampung nanti saja. Kalau bawa banyak barang nanti susah di jalan, bahaya juga," tuturnya.

Kapospam Pangkalan Jati Ipda Jonaidi menegaskan mengawali perjalanan jauh di malam hari jelas lebih berbahaya ketimbang melintas saat panas terik matahari.

Meski sudah diimbau agar tak berangkat di malam hari, pemudik enggan mengindahkan lantaran sudah terbiasa mengawali perjalanan mudik di malam atau dini hari.

Berangkat mudik di malam hari juga bukan pelanggaran lalu lintas sehingga aparat tak dapat melakukan penindakan, pun pilihan pemudik berbahaya.

"Jelas tidak aman karena rawan kecelakaan dan kejahatan juga. Kita sudah imbau, tapi pemudik alasannya sudah biasa kalau jalan malam. Enggak bisa dilarang juga karena bukan pelanggaran," kata Jonaidi.

Penulis: Bima Putra
Editor: Satrio Sarwo Trengginas
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved