Konferensi Perdamaian: Vatikan Dukung Alumni Cipayung, Presiden Jokowi Dijadwalkan Hadir di Jakarta

Konferensi perdamaian akan berlangsung dalam 3 (tiga) seri yang masing-masing diadakan di Vatikan, di Kairo (Mesir) dan Jakarta (Indonesia).

Konferensi Perdamaian: Vatikan Dukung Alumni Cipayung, Presiden Jokowi Dijadwalkan Hadir di Jakarta
Istimewa
Dari ki-ka : Sekretaris Dewan Kepausan Untuk Dialog Antar Umat Beragama, Markus Solo Kewuta SVD, Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) AM Putut Prabantoro, Ketua Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (FORKOMA PMKRI) saat membahas Konferensi Internasional Perdamaian di Vatikan pekan lalu (3/6/2019). 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Dewan Kepausan Untuk Dialog Antaragama mendukung rencana Konferensi Internasional Perdamaian yang akan dilaksanakan oleh Alumni Cipayung.

Konferensi itu rencananya berlangsung di Roma Italia, Kairo Mesir dan Jakarta.

Rencana Konferensi Internasional Perdamaian itu, menurut Dewan Kepausan Untuk Dialog Antaragama, sesuai dengan semangat Deklarasi Abu Dhabi yang ditandatangani antara Pimpinan Tertinggi Gereja Katolik Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Ahmad Al Thayyeb pada Februari 2019 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Dukungan itu ditegaskan oleh Sekretaris Dewan Kepausan Untuk Dialog Antar Umat Beragama, Markus Solo Kewuta SVD saat menerima kunjungan Ketua Forum Komunikasi Alumni PMKRI, Hermawi Franziskus Taslim, didampingi Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) AM Putut Prabantoro, di Vatikan, Senin (3/6/2019).

Deklarasi Abu Dhabi tentang Perdamaian itu berjudul “Documento Sulla – FRATELLANZA UMANA Per Pace Mondiale E La Convivenza Comune” atau “Sebuah Dokumen tentang– Persaudaraan Umat Manusia Untuk Perdamaian dan Hidup Bersama”.

Dokumen yang bersejarah ini diterjemahkan dalam 7 (tujuh) bahasa termasuk Inggris, Arab, Jerman dan Italia.

Menurut Markus Solo Kewuta SVD, Deklarasi Abu Dhabi merupakan sebuah dokumen yang memiliki makna propetis atau kenabian. Artinya, deklarasi ini memuat hal-hal yang merupakan batu sandungan di dalam perjalananan umat manusia menuju masyarakat yang damai, adil dan makmur secara kasat mata.

Batu sandungan itu dimuat secara sangat jelas atau nyata meskipun terasa sangat menyakitkan tetapi sekaligus ingin mengingatkan kepada umat manusia justru itulah masalah-masalah yang harus ditelusuri bersama secara jujur dan kita cari makna dan solusinya secara bersama-sama pula.

“Jadi ini merupakan dokumen dengan makna prophetis,” ujar Sekretaris Dewan Kepausan itu.

Hermawi Franziskus Taslim, Ketua Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (FORKOMA PMKRI) pernah menyampaikan keinginan Forum Alumni Cipayung untuk menggelar Konferensi Internasional Perdamaian sebagai tindak lanjut dari Deklarasi Abu Dhabi.

Halaman
12
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved