Berdiri di atas Tanah Sengketa, Bangunan Rumah di Limo Dieksekusi Pengadilan Negeri Depok

Pengadilan Negeri (PN) Kota Depok mengeksekusi atau mengosongkan paksa sebuah rumah di kawasan Meruyung, Limo, Kota Depok.

Berdiri di atas Tanah Sengketa, Bangunan Rumah di Limo Dieksekusi Pengadilan Negeri Depok
TribunJakarta.com/Dwi Putra Kesuma
Istri Basuki menangis ketika rumahnya yang berdiri diatas tanah sengketa dieksekusi. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, LIMO - Pengadilan Negeri (PN) Kota Depok mengeksekusi atau mengosongkan paksa sebuah rumah di kawasan Meruyung, Limo, Kota Depok.

Eksekusi dilakukan lantaran rumah tersebut berada di atas tanah sengketa seluas 450 meter persegi.

Tanpa perlawanan, penghuni rumah hanya bisa menangis kala meratapi barang-barang dan perabotannya dikeluarkan dari dalam rumah.

Irwan juru sita PN Kota Depok mengatakan, penghuni rumah tersebut bernama Basuki yang tinggal bersama keluarganya.

Ia melanjutkan, eksekusi dilakukan atas dasar putusan pengadilan yang sudah inkrah yang dilaporkan oleh pemilik tanah atas nama Rahmat Effendi.

Merumput Bersama Tim Garuda Select, Bagus Kahfi Akui Kualitas Permainannya Meningkat di Lapangan

Pencarian Remaja Tenggelam di Perairan Ancol Dilanjutkan Besok

Hendak Daftarkan Anaknya Sekolah, Wali Murid Ini Waswas Kesempatan PPDB SMA Negeri Hanya Sekali

Rahmat sendiri sudah membeli tanah tersebut dengan surat akta jual beli (AJB) yang sah pada tahun 2013 silam.

Namun, karena kesibukan dan pekerjannya di luar kota, Rahmat jarang mengecek kondisi tanah miliknya tersebut.

"Sekira tujuh bulan kemudian, pak Rahmat ini mengecek tanahnya dan ternyata sudah berdiri satu buah rumah permanen atas nama pak Basuki. Selanjutnya pak Rahmat ini menelusuri darimana pak Basuki ini bisa mendirikan rumah diatas tanah miliknya," ujar Irwan dikonfirmasi wartawan, Senin (17/6/2019).

Setelah ditelusuri, diketahui Basuki membeli tanah tersebut dari dua orang pria bernama Luis dan Aldrin, yang mana saat itu ketiganya langsung dilaporkan ke pihak Kepolisian oleh Rahmat atas dasar penyerobotan tanah.

"Berdasarkan putusan pengadilan sampai tingkat kasasi, Luis sebagai penjual tanah milik Rahmat Effendi divonis satu tahun penjara dan saat ini mereka sudah mendekap di Lapas Cilodong," tutur Irwan.

Penulis: Dwi putra kesuma
Editor: Satrio Sarwo Trengginas
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved