Pertama di Asia Tenggara, Museum MACAN Tampilkan Pameran Tunggal Perupa Tiongkok Xu Bing

Xu Bing: Thought and Method adalah pameran retrospektif Xu Bing terbesar dan pertama di Asia Tenggara, juga yang pertama di Indonesia.

Pertama di Asia Tenggara, Museum MACAN Tampilkan Pameran Tunggal Perupa Tiongkok Xu Bing
Dok. Museum MACAN
Xu Bing 

Saat tinggal di New York, ia mulai mengombinasikan elemen budaya Barat dan elemen tradisional Tiongkok, juga membahas isu antarbudaya.

Sejak 2000-an, ia banyak membahas topik-topik globalisasi, tindakan memata-matai dan berbagai problem industri.

Sesuai dengan judulnya, Xu Bing: Thought and Method menampilkan perjalanan karier Xu Bing secara menyeluruh, serta metode dan motivasi di balik gagasan artistiknya.

Beberapa karya yang akan ditampilkan meliputi:

  • Book from the Sky (1987-1991) adalah karya instalasi masif yang dibentuk dari banyak gulungan kertas yang tingginya mencapai hampir tiga meter dan menjuntai dari langit-langit hingga lantai. Di dalamnya tertulis ribuan huruf rekaan Xu Bing yang terlihat seperti karakter Mandarin, namun tidak memiliki arti khusus. Xu Bing sengaja menantang sistem pengetahuan umum lewat karakter huruf-huruf buatannya ini.
  • Ghosts Pounding the Wall (1990-1991) adalah instalasi berukuran 15 x 32 meter, dan merupakan gambaran dari Tembok Besar Tiongkok.
  • Square Word Calligraphy (1994-kini), sebuah sistem bahasa ciptaan Xu Bing yang lahir dari “perkawinan” huruf Latin dan karakter yang menyerupai kaligrafi Tiongkok.
  • Honor and Splendor (2004), instalasi berbentuk karpet motif loreng harimau, dibuat dari 660.000 batang rokok.
  • Book from the Ground (2003-kini) adalah sebuah proyek yang menggunakan simbol-simbol universal, termasuk tanda-tanda yang sering kita lihat di ruang publik dan kumpulan emoji, untuk membentuk sebuah cerita.
  • Dragonfly Eyes (2017) adalah sebuah film panjang yang dirangkai dari kompilasi rekaman kamera CCTV di Tiongkok. Sejak 2015, klip dari kamera pengawas di Tiongkok dapat diakses bebas oleh masyarakat.

Xu Bing, dalam wawancara dengan Museum MACAN, berkata:

“Untuk menjadi perupa yang baik, seseorang mesti menjadi pemikir yang baik. Tetapi, jika perupa tersebut hanya memiliki pemikiran atau filosofi yang baik, ia dapat menjadi filsuf yang hebat, namun namanya tidak akan pernah tercatat dalam
sejarah dunia seni. Karena itu, seorang perupa mesti mempunyai sebuah cara artistik untuk mempresentasikan idenya, sebuah metode yang lepas dari konsep budaya yang normatif.”

Pameran Xu Bing: Thought and Method
Pameran Xu Bing: Thought and Method (Dok.Museum Macan)

Sebagai perupa, Xu Bing mendapat reputasi globalnya lewat metode unik dalam penyajian isu yang merefleksikan kehidupan kontemporer, eksplorasi berbagai medium – dari yang tradisional seperti tinta Cina hingga yang eksperimental seperti film dan kreativitasnya dengan bahasa.

Lewat karya-karyanya yang mendunia, ia telah menjadi simbol seni kontemporer Tiongkok di mata publik global.

Pada 1999, ia menerima MacArthur Fellowship, atau sering disebut “Hibah Genius”, penghargaan bergengsi untuk
warganegara Amerika Serikat yang telah berkontribusi besar di bidangnya.

Aaron Seeto, Direktur Museum MACAN berpendapat:

Halaman
123
Editor: Kurniawati Hasjanah
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved