Breaking News:

Salah Kaprah, Truk Berbobot Maksimal 8 Ton Boleh Melintas Bebas di Kabupaten Tangerang

Sebab, truk bertonase berat dilarang melintas di Kabupaten Tangerang mulai mulai dari pukul 05.00 WIB sampai 22.00 WIB.

Penulis: Ega Alfreda | Editor: Wahyu Aji
TribunJakarta.com/Ega Alfreda
Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar saat mengawasi kembali Jalan Raya Legok, Kabupaten Tangerang pasca demo sopir truk atas penolakan jam melintas truk bertonase berat, Selasa (18/12/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar menegaskan truk bermuatan tidak lebih dari delapan ton diperbolehkan melintas secara bebas Kabupaten Tangerang tanpa pembatasan jam operasional.

Sebab, kata Zaki untuk mengangkut material tidak harus menggunakan truk raksasa dan tronton, melainkan dapat menggunakan truk-truk jenis lain yang lebih kecil ukurannya.

"Ya itu dia tadi, kan ada truk kecil yang kita perbolehkan melintas terutama di bawah delapan ton atau maksimal delapan ton. Kalau itu enggak ada masalah. Tentu semua ini enggak akan ada masalah kalau kita semua mau merubah pola kita," kata Zaki di Pendopo Bupati, Kamis (21/6/2019).

Sebab, truk bertonase berat dilarang melintas di Kabupaten Tangerang mulai mulai dari pukul 05.00 WIB sampai 22.00 WIB.

Peraturan tersebut tertulis jelas di Peraturan Bupati (Perbup) nomor 47 tahun 2019 tentang pembatasan jam operasional truk bertonase berat.

Terlepas dari Truknya, Kontainer Terbalik di Perempatan Pesing Tadi Pagi

Zaki juga mengatakan, sejak diberlakukannya peraturan tersebut angka kecelakaan yang bersinggungan dengan truk di Kabupaten Tangerang berkurang drastis.

"Kecelakaaan lalu lintas berkaitan dengan truk bertonase besar menurun karena mereka tidak lagi berebut jalan. Soal sanksi hukum kami sudah serahkan ke Polres dari Tangsel, Tigaraksa dan Kota," tuturnya.

Sementara Ketua Asosiasi Transporter Tangerang-Bogor, Asep Fadlan mengatakan rata-rata berat truk yang melintas di Kabupaten Tangerang mencapai 30 ton.

Sebelum diberlakukan Perbup nomor 47, lanjut Asep, perharinya terdapat sekira tiga ribu truk yang melintas dari Bogor menuju Tangerang ke lokasi proyek nasional seperti Runway 3 di Bandara Soekarno-Hatta.

"Pas ada Perbup, Kisaran jadi dua ribuan truk melintas karena dibatasi jam operasional. Jadi 24 jam itu sehari semalam cuma diperbolehkan tujuh jam untuk operasi truk," ucap Asep.

Imbasnya, omzet dari para sopir dan pengusaha truk menurun drastis sampai 70 persen sejak akhir tahun 2018 lalu.

"Luar biasa kerugiannya, boleh dikatakan kerugiannya 70 persen. Karena urusan tambang yang tadinya dua shift jadi satu shift. Jadi sudah rata-rata mengalami rugi dan PHK," kata Asep.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved