Kepala Sekolah SMAN 68: Banyak Masyarakat Keliru Dengan Sistem Zonasi

Menurut Adwiana, para orangtua murid sudah mengantre sejak subuh untuk mendapat nomor antrean lantaran takut tak bisa daftar.

Kepala Sekolah SMAN 68: Banyak Masyarakat Keliru Dengan Sistem Zonasi
TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana
Antrean peserta PPDB tingkat SMA di SMA Negeri 68 Jakarta, Senin (24/6/2019). 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, SENEN - Kepala Sekolah SMA Negeri 68 Jakarta Pusat Adwiana Hardiyanti, mengatakan banyak orangtua murid yang keliru dengan sistem zonasi dalam Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) yang berlaku tahun ini.

Hal ini terlihat dari banyaknya antrean para peserta didik baru yang sudah memadati posko PPDB sejak subuh. Padahal, pendaftaran PPDB baru dibuka mulai pukul 08.00 WIB.

"Di SMA 68 itu ternyata masyarakat sekitar kita, terutama yang wilayahnya gak jauh dari kita ada 42 kelurahan dengan 9 kecamatan itu rata-rata pemahamannya dari TV. Pemahaman itu menyatakan siapa yang datang duluan itu yang akan dilayani, sementara yang terlambat gak bakal dapat," kata Adwiana, di SMA Negeri 68, Senin (24/6/2019).

Menurut Adwiana, para orangtua murid sudah mengantre sejak subuh untuk mendapat nomor antrean lantaran takut tak bisa daftar.

Sebab, dengan adanya sistem zonasi sebagian besar diantaranya khawatir bahwa sang anak tak bisa mendaftar karena kuota sekolah sudah penuh dengan banyaknya pendaftar yang berasal dari daerah terdekat dengan lingkungan sekolah.

Hal ini pun dibantah oleh Adwiana.

"Sistem zonasi di DKI itu memang beda sedikit. Kita punya istilah bahwa zonasi tetap memperhitungkan nilai atau nem. Jadi walaupun mereka punya kesempatan di sekolah terdekat, itu nilainya tetap diranking," tuturnya.

Wakil Kepsek SMPN 115 Sebut Nilai Ujian Juga Mempengaruhi Lolos Tidaknya Siswa di PPDB

Peserta PPDB Diwajibkan Bawa Kartu Keluarga saat Verifikasi Berkas

Adapun zonasi yang diterima di SMA 68 sendiri terdiri dari 42 kelurahan dari 9 Kecamatan.

Diantaranya ada kelurahan Cikini, Gondangdia, Kebon sirih, Menteng, Pegangsaan, Bungur, Kenari, Kramat, Kwitang, Paseban, Senen, Galur, Johar Baru, Kampung Rawa, Tanah Tinggi, Cempaka Putih Barat, Cempaka Putih Timur, Rawasari.

Cempaka baru, Gunung Sahari Selatan, Harapan Mulya, Kebon Kosong, Kemayoran, Serdang, Sumur Batu, Utan Panjang, Kayu Manis, Kebon Manggis, Pal Meriam, Pisangan Kayu, Utan Kayu Selatan, Utan Kayu Utara, Bali Mester, Bidara Cina, Cipinang Besar Selatan, Cipinang Besar Utara, Cipinang Cempedak, Cipinang Muara, Kampung Melayu, Rawa Bunga, Kayu Putih, dan Gunung Sahari Utara.

Adwiana mengatakan, meskipun dalam sistem zonasi seluruh peserta didik diberikan kesempatan yang sama untuk belajar di sekolah terdekat dengan domisili, nilai atau nem dari pendaftar sendiri menjadi salah satu faktor penentu diterima atau tidaknya peserta didik di sekolah tersebut.

Apabila tidak diterima, Adwiana mengatakan bahwa para siswa bisa memiliki kesempatan mendaftar kembali di sekolah lainnya selama periode pendaftaran masih berlangsung.

"Iya, setiap anak dapat kesempatan untuk memilih sampai 3 kali dalam 3 sekolah. Jadi satu anak bisa (memilih) sembilan sekolah. Dalam satu kali pilihan, kan yang dipilih 3 sekolah. Jadi apabila namanya sudah tergeser dalam tiga sekolah tersebut, bisa mendaftar tiga sekolah lagi. dalam sistem zonasi seperti itu," tutur dia.

"Intinya bahwa sistem zonasi di DKI tetap memperhitungkan peringkat nilai. Banyak yang keliru. Seolah-olah datang pagi dapat nomor, lalu bisa daftar. Padahal dia hanya mendaftarkan berkas. Disini tidak ada standar nilai, tapi mengikuti para pendaftar apabila yang daftar nilainya tinggi-tinggi otomatis tergeser. Kita mengikuti," pungkas dia.

Penulis: Pebby Ade Liana
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved