KontraS Terima Laporan Aksi 21-22 Mei, Salah Satunya Driver Ojol Diduga Jadi Korban Salah Tangkap

Staf pembela hukum HAM KontraS, Andi Muhammad Rezaldy, menyebut pihak KontraS menerima delapan kasus ihwal tragedi 21-22 Mei 2019

KontraS Terima Laporan Aksi 21-22 Mei, Salah Satunya Driver Ojol Diduga Jadi Korban Salah Tangkap
TribunJakarta.com/Muhammad Rizki Hidayat
Staf pembela hukum HAM KontraS, Andi Muhammad Rezaldy saat memberikan keterangan kepada awak Wartawan, di Gedung Komnas HAM, Jakarta Pusat, Senin (24/6/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Muhammad Rizki Hidayat

TRIBUNJAKARTA.COM, MENTENG - Staf pembela hukum HAM KontraS, Andi Muhammad Rezaldy, menyebut pihak KontraS menerima delapan kasus ihwal tragedi 21-22 Mei 2019.

Satu di antara delapan laporan tersebut, sambungnya, ada kejadian salah tangkap yang dilakukan oleh pihak kepolisian.

Yakni menangkap driver ojek online (ojol) yang saat itu, kata dia, sedang melihat-lihat kejadian di kawasan Slipi, Jakarta Barat.

"Jadi, ada satu kasus yang bersangkutan itu ojek online, padahal dia hanya datang melihat-lihat saja peristiwa 21-22 Mei di Slipi. Jadi, dia mengalami penyiksaan dua kali. Pertama saat ditangkap, kedua saat di BAP (Berita Acara Pemeriksaan)," kata Andi, sapaannya, di Gedung Komnas HAM, Jakarta Pusat, Senin (24/6/2019).

Kriss Hatta Dituntut 4 Tahun Penjara, Pengacaranya Akan Beberkan Foto dan Video Ini di Persidangan

Sabu yang Diproduksi Mangendar di Lantai 3 Rumahnya Diedarkan ke Jakarta

Pelaku Perampokan dan Penyekapan di Bekasi Ambil Rekaman CCTV

"Jadi, setelah selesai mengantar pesanan, dia dateng buat lihat-lihat. Kebetulan ada gas air mata, dia juga tidak lakukan penumpukan dan sebagainya. Dia lari, masuk gang buntu, kemudian ada beberapa yang diduga lakukan kerusuhan, ditangkaplah di sana," lanjut Andi.

Andi menyebut, driver ojol ini juga mengalami tindak kekerasan.

"Pertama, driver ojol ini mengakui kalau dia dipukul dan dikejar. Kedua, saat BAP di Polres Jakarta Barat, dia mengaku dipukul dengan penggaris," ujar Andi.

Andi menambahkan, tujuh orangnya lagi mengalami penyiksaan dan penangkapan tanpa prosedur hukum yang sesuai.

"Tujuhnya lagi mengalami penyiksaan dan juga surat penangkapan secara prosedur, surat penangkapan dan penahanan tidak diterima oleh pihak keluarga," jelas Andi.

Dari delapan orang tersebut, kata Andi, ada seorang yang statusnya menjadi saksi juga ditangkap.

"Dari delapan orang itu, ada satu orang yang statusnya jadi saksi. Dan mengenai soal ditahan emang ada. Posisinya ada di polda dan Polres metro Jakarta Barat," ucap Andi.

"Dan dari beberapa kasus yang kita terima, mereka secara umum datang melihat demo 22 Mei. Dari kasus itu, kalau diukur berdasarkan waktunya secara umum, mereka ditangkap pada 22 Mei," sambungnya.

Andi menilai, tindak kekerasan atau penyiksaan yang dilakukan terhadap pihak yang terlibat tragedi 21-22 Mei 2019 ini melanggar HAM.

"Jelas salah. Pertama, melanggar HAM. Kedua, seseorang yang meski dia dituduh, di hadapan hukum itu sama, jadi seseorang tidak boleh dituduh melakukan pidanaan sebelum pengadilan memvonis. Jadi, dalam bentuk apapun penyiksaan tidak diperbolehkan," pungkasnya.

Penulis: Muhammad Rizki Hidayat
Editor: Satrio Sarwo Trengginas
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved