Komentar Penyandang Disabilitas Soal Sikap Individualis Warga Jakarta

Pasalnya fasilitas yang disediakan pemerintah bagi penyandang disabilitas justru tak dapat dinikmati karena diserobot pihak lain.

Komentar Penyandang Disabilitas Soal Sikap Individualis Warga Jakarta
TRIBUNJAKARTA.COM/LEO PERMANA
Wali Kota Jakarta Pusat, Bayu Meghantara (training oranye) saat membantu seorang pengguna kursi roda melintasi zebra cross di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Jumat (8/2/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Masalah yang dihadapi penyandang disabilitas di DKI Jakarta tak sekedar belum ramahnya fasilitas publik, tapi juga sikap masyarakat yang mementingkan dirinya sendiri.

Yogi Madsoni (46), seorang tuna netra yang sudah 27 tahun bermukim di Ibu Kota mengatakan nyaris tak ada perbedaan sikap warga DKI ketika dia pertama tiba di Jakarta dengan sekarang.

Pasalnya fasilitas yang disediakan pemerintah bagi penyandang disabilitas justru tak dapat dinikmati karena diserobot pihak lain.

"Kalau fasilitas sekarang sudah membaik, tergantung pemerintahnya. Tapi kalau warga Jakarta ya masih individualis saja. Ubin pemandu di trotoar dipakai buat dagang, buat lewat motor," kata Soni di Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (25/6/2019).

Kala bepergian memenuhi panggilan pijat dan urusan lain, Soni kerap menegur PKL dan pengemudi sepeda motor yang merampas haknya.

Nahas teguran yang disampaikan tak sepenuhnya berhasil karena PKL dan pengemudi sepeda motor justru lebih galak ketimbang ayah dua anak itu.

"Saya termasuk sering bepergian, jadi banyak menggunakan fasilitas umum. Jadi kalau ada PKL atau motor yang naik ke trotoar ya saya ngomel, tapi justru galakan mereka," ujarnya.

Puluhan disabilitas sedang mencoba ubin pemandu trotoar di Jalan Yos Sudarso tepat di depan kantor Walikota Jakarta Utara, Senin (2/4/2019)
Puluhan disabilitas sedang mencoba ubin pemandu trotoar di Jalan Yos Sudarso tepat di depan kantor Walikota Jakarta Utara, Senin (2/4/2019) (TribunJakarta/Afriyani Garnis)

Pria yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Persatuan Tunanetra Indonesia DPC Jakarta Timur itu juga menyesalkan sikap penumpang kereta yang justru menguasai kursi prioritas.

Dengan dalih lelah, penumpang yang menguasai kursi prioritas itu acap kali berpura-pura terlelap ketika Soni hendak menggunakan haknya.

"Kadang saya mikir, ini yang disabilitas sebenarnya siapa. Kalau mereka capek pulang kerja kan semua juga capek. Jadi naik kereta sekarang dulu sama sekarang seperti enggak ada bedanya," tuturnya.

Di HUT ke-492 DKI Jakarta ini, Soni berharap warga Jakarta dapat memperbaiki sikapnya sehingga Ibu Kota lebih ramah penyandang disabilitas.

Tanpa hal itu, Soni yang jadi tuna netra sejak lahir yakin jargon kejamnya Ibu tiri tak sekejam Ibu Kota masih harus dicicipi penyandang disabilitas.

"Teman-teman disabilitas sampai sekarang masih berjuang agar Jakarta ini ramah terhadap penyandang disabilitas. Mimpi kita menjadikan Jakarta ramah disabilitas secara keseluruhan," kata Soni.

Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved