Pilpres 2019

VIDEO Ikut Aksi Kawal Sidang Sengketa Pilpres, Jawara Banten Atraksi Debus

"Saya dari Rangkas, datang kesini berjalan kaki dua hari dua malam baru sampai," ucapnya, Rabu (26/6/2019).

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Ada yang unik saat massa menggelar aksi demo di kawasan Patung kuda, Gambir, Jakarta Pusat.

Seorang pria mengenakan pakaian serba hitam tampak mempertunjukkan sebuah aksi debus di tengah kerumunan massa.

Dalam aksinya, ia tampak menusuk-nusukan tiga buah besi ke tubuh seokor ayam jago yang ia bawa.

Namun, bukannya mati atau mengeluarkan darah, ayam tersebut tetap hidup, bahkan berlari-lari.

Hal ini ia lakukan beberapa kali dan sempat membuat para peserta aksi dan sejumlah petugas kepolisian yang berjaga terpana.

Jelang Putusan Sengketa Pilres, Alumni PA 212 Ajak 1 Juta Masyarakat Gelar Aksi di MK Besok

Pria tersebut bernama Haji Zaini (69) atau yang akrab disapa abah. Ia mengaku berasal dari Rangkas Bitung, Banten dan sengaja datang untuk mengawal sidang di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK).

"Saya dari Rangkas, datang kesini berjalan kaki dua hari dua malam baru sampai," ucapnya, Rabu (26/6/2019).

Ia menyebut, ayam yang ia gunakan itu melambangkan rakyat Indonesia yang disebutnya mengalami penderitaan akibat penguasa yang bertindak semena-mena.

"Ayam ini melambangkan kesengsaraan rakyat yang terus menerus disiksa. Tapi ayam ini tidak mati, ayam ini tetap hidup," ujarnya.

"Sama seperti kami disini, meski disiksa kami tetap bisa hidup, berjuang disini demi keadilan," tambahnya.

VIDEO Unjuk Rasa di Dekat Gedung MK Selesai, Petugas PPSU Bersihkan Sampah

Abah bercerita, bagaimana ia kini hidup sengsara lantaran hanya bisa menggantungkan hidup dari ilmu silatnya.

Belum lagi berbagai bahan kebutuhan pokok yang belakangan harganya semakin merangkak naik.

"Semua rakyat kelaparan, enggak ada kemakmuran. Yang kaya makin kaya dan yang miskis makin sengsara," kata abang Zaini.

Meski hanya datang dari Rangkas Bitung seorang diri, namun ia berharap MK berlaku adil dan memutuskan hasil sidang sengketa Pilres berdasarkan fakta-fakta yang ada.

"MK harus jujur dan adil, jangan ada kebohongan. Kalau bohong repot, di dunia saja bohong, apa nanti di akhirat juga mau bohong," ucapnya.

Penulis: Dionisius Arya Bima Suci
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved