Batalkan Pesanan Didenda, Penumpang Sebut Bisa Jadi Modus Driver Grab Berbuat Curang

Kebijakan ini pun menuai kontroversi. Raudya (21), seorang mahasiswi, menyoroti kematangan sistem Grab dalam kebijakan ini.

Batalkan Pesanan Didenda, Penumpang Sebut Bisa Jadi Modus Driver Grab Berbuat Curang
Kolase TribunJakarta.com
Ilustrasi Grab 

TRIBUNJAKARTA.COM - Perusahaan aplikator transportasi berbasis daring, Grab, masih melakukan uji coba sistem denda bagi penumpang yang membatalkan pesanan.

Sistem ini berlaku apabila penumpang membatalkan pesanan di atas lima menit.

Kebijakan ini pun menuai kontroversi. Raudya (21), seorang mahasiswi, menyoroti kematangan sistem Grab dalam kebijakan ini.

Dia menilai, sebelum menjatuhkan denda, sistem Grab harus presisi menentukan siapa pihak yang teledor dalam pembatalan pesanan.

Pasalnya, Grab telah menyatakan bahwa biaya denda yang dikenakan kepada penumpang bakal langsung ditransfer ke rekening pengemudi.

Ia khawatir hal ini menjadi celah "permainan" pengemudi Grab untuk berbuat curang.

"Menurut saya, kalau driver yang minta cancel gimana? Kalau kita coba hubungi terus, tapi setelah 5 menit, driver yang minta cancel, kan harus ada pemikiran yang lebih detail," ujar Raudya (21)  Jumat (28/6/2019) pagi.

"Tergantung alasannya, dong, baru dikenai denda. Harusnya kalau kasusnya kayak gitu kan enggak dibebankan ke customer," imbuhnya.

Pendapat semacam ini juga dikemukakan oleh Nurhasna (23), seorang karyawati swasta.

Menurutnya, sistem denda yang langsung ditransfer kepada pengemudi bisa menimbulkan salah paham di antara pengguna dan pengemudi sehingga mutlak diperlukan sistem yang arbitrer.

Halaman
12
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved