3 Pekan Sebelum Lepas Anjing di Masjid, SM Sempat Konsultasi Kejiwaan

Padahal bagi pengidap gangguan jiwa, rutin mengkonsumsi obat merupakan hal penting agar pasien tak lepas kendali dan melakukan tindakan tertentu.

3 Pekan Sebelum Lepas Anjing di Masjid, SM Sempat Konsultasi Kejiwaan
Twitter
Viral video wanita bawa anjing masuk ke dalam masjid di Sentul City, Bogor 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Dokter jiwa RS Marzoeki Mahdi dan RS Siloam Bogor, dr. Lahargo Kembaren Sp KJ membenarkan perempuan pelepas anjing di Masjid Al Munawaroh, SM (52) mengidap gangguan jiwa sejak lama.

Sejak tahun 2013 hingga sekarang, Lahargo menuturkan SM terus melakukan kontrol atau rawat jalan di tiga Rumah Sakit, pun hingga beberapa pekan sebelum kejadian itu terjadi.

"Kurang lebih tiga minggu lalu yang bersangkutan konsultasi untuk masalah kejiwaannya di RS Siloam Bogor. Yang terakhir di RS Siloam Bogor itu dengan saya. Jadi sejak 2013 sudah mulai berobat," kata Lahargo di RS Polri, Rabu (3/7/2019).

Meski tak merinci bagaimana kondisi kejiwaan SM saat terakhir melakukan pemeriksaan, Lahargo menuturkan SM tak rutin mengkonsumsi obat yang diberikan.

Padahal bagi pengidap gangguan jiwa, rutin mengkonsumsi obat merupakan hal penting agar pasien tak lepas kendali dan melakukan tindakan tertentu.

"Dalam hal ini sepertinya yang bersangkutan agak sulit untuk minum obat secara teratur. Jadi memang berbagai keadaan tersebut sudah coba kita berikan edukasi, pemahaman, dan kembali kepada pasien dan keluarganya," ujarnya.

Karpet Baru dari Hamba Allah untuk Masjid di Sentul Bogor yang Viral karena Wanita Lepas Anjing

Lahargo juga membenarkan bahwa sejak beberapa tahun lalu SM beberapa dokter yang sudah merekomendasikan agar dia dirawat di Rumah Sakit Jiwa.

Secara medis, dia menjelaskan dokter baru merekomendasikan pasien dirawat di Rumah Sakit Jiwa bila melakukan tindakan membahayakan.

"Ketika ada ada perilaku yang membahayakan untuk diri sendiri dan orang lain itu adalah indikasi untuk dilakukan perawatan," tuturnya.

Lahargo yang ikut membantu observasi kejiwaan SM selama perawatan di RS Polri mengaku sebagai satu dokter yang merekomendasikan dirawat di Rumah Sakit Jiwa.

Namun secara medis keputusan untuk merawat SM di Rumah Sakit Jiwa tergantung pihak keluarga atau tak dapat dipaksakan.

"Detailnya tidak begitu hafal, tapi ada beberapa pertemuan memang dianjukan untuk dilakukan perawatan. Di RS Marzoeki Mahdi dan RS Siloam juga demikian," kata Lahargo. 
 

Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved