Bahas Kubu Oposisi yang Bakal Koalisi dengan Jokowi, Pengamat Politik Singgung Perang Badar

Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno angkat suara mengenai kubu oposisi yang bakal koalisi dengan Jokowi.

Tangkapan layar Kompas TV
Calon presiden-calon wakil presiden 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin berpidato di depan warga Kampung Deret Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2019) mengomentari hasil rekapitulasi suara Pilpres 2019 yang diketok KPU RI pada Selasa dini hari. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno angkat suara mengenai kubu oposisi yang bakal koalisi dengan Jokowi.

Pengamat politik bahkan menyinggung mengenai perang badar saat membahas kubu oposisi yang bakal berkoalisi dengan Jokowi.

Hal itu dikatakan pengamat politik Adi Prayitno saat menjadi narasumber di program acara Prime Time News yang dilansir TribunJakarta.com dari kanal YouTube Metro Tv News pada Rabu (3/7).

Awalnya pengamat politik Adi Prayitno menjelaskan, modal politik Jokowi di periode kedua ini telah semakin kuat sehingga tak perlu tambahan partai politik di koalisinya.

Menurut Adi Prayitno, di ajang Pilpres 2019 ini harus menjadi momen reward and punishment, yang berarti partai yang mengusung pemenang Pilpres 2019 menjadi penguasa dan partai yang calonnya kalah harus tetap berada di luar kekuasaan.

"Hal tersebut agar tumbuh check and balances yang sehat," jelas pengamat politik.

Respon Mak Vera saat Billy Syahputra Sebut Uang Olga Rp 1,5 Miliar Dicuri: Mengapa Baru Diungkap?

Pengamat Politik Sebut Menteri Muda di Kabinet Jokowi Tak Cukup Profesional Semata, Ini Analisisnya

Pengamat politik mengemukakan, saat ini Jokowi telah mengantongi sekitar 60 persen dukungan di Parlemen yang berarti stabilitas politik dan keinginan Jokowi membangun Indonesia tentu akan mendapatkan dukungan.

"Dalam konteks ini lah menurut saya tak terlalu penting untuk mengajak teman-teman kubu 02 masuk ke koalisi," ucap pengamat politik.

Pengamat politik menyatakan, apabila ada partai-partai yang akan diajak masuk koalisi maka harus sesuai visi misi serta Nawa Cita Jokowi.

Calon presiden 01 Joko Widodo dan capres 02 Prabowo Subianto.
Calon presiden 01 Joko Widodo dan capres 02 Prabowo Subianto. (Kolase TribunJakarta.com)

Hal tersebut dilakukan agar nantinya berpotensi menjadi duri dalam daging.

"Jangan sampai nanti berpotensi jadi duri dalam daging karena ini tak gampang untuk menyatukan dua kolam yang memiliki fragmentasi begitu ekstrem dan berlabuh dalam satu haluan," tutur pengamat politik.

Istri Sopir Jokowi - Gibran Meninggal Tertabrak Truk, Suami Kenang Kebiasaan: Suka Motoran Sendiri

Theresa Wienathan Ungkap Hal Tak Disukai Istri Ardi Bakrie, Nia Ramadhani Sewot: Lo Nyindir Gue?

Pengamat politik menjelaskan, tak bisa dibayangkan apabila PAN dan Gerindra tetiba memuji Jokowi yang merupakan tindakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

"Hal tersebut juga menjadi kendala psikologis politik yang harus dibayangkan," jelas pengamat politik.

Pengamat politik Adi Prayitno mengungkapkan, kemenangan telak Jokowi di Pilpres 2019 dan Pileg 2019 mengartikan sebagai modal politik Presiden RI terpilih itu.

Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno
Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno (YouTube/Metro Tv)
Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved