Ini Tanggapan Dokter Jiwa Wanita Lepas Anjing di Masjid Ditempatkan Bersama Tahanan Lain

"Kalau masalah di tahanan kan itu masalah penyidik, kita hanya memberikan informasi secara medis. Secara medis proses penanganannya," kata Lahargo.

Ini Tanggapan Dokter Jiwa Wanita Lepas Anjing di Masjid Ditempatkan Bersama Tahanan Lain
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
dr. Lahargo Kembaren Sp KJ di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (3/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Meski saat menjalani pemeriksaan kejiwaan di RS Polri SM (52) ditempatkan di ruang khusus atau tidak bersama tahanan lain yang tak mengidap gangguan jiwa.

Satreskrim Polres Bogor menetapkan perempuan yang jadi tersangka penodaan agama karena melepas anjing di Masjid Al Munawaroh, Kabupaten Bogor itu tetap ditahan di sel tahanan bersama tahanan lain.

Saat dikonfirmasi apakah SM berpotensi menganggu atau diganggu tahanan lain, satu dokter jiwa menangani SM, dr. Lahargo Kembaren Sp KJ mengatakan hal itu bukan kewenangannya.

"Kalau masalah di tahanan kan itu masalah penyidik, kita hanya memberikan informasi secara medis. Secara medis proses penanganannya," kata Lahargo di RS Polri, Rabu (3/7/2019).

Pun begitu, Lahargo mengakui bahwa nantinya SM bakal merasa tidak nyaman karena tak merasa berbuat salah namun harus ditahan bersama tersangka lainnya.

Diduga Tertabrak Kendaraan, Anjing yang Dilepas di Masjid Sentul Ditemukan Mati

Namun dia memastikan gangguan jiwa yang diidap SM sejak tahun 2013 tak bakal menular karena penyakit kejiwaan tak bersifat fisik.

"Saya rasa semua orang pun begitu (merasa tidak nyaman ditahan). Tidak berada di rumah saja kan tidak nyaman ya," ujarnya.

Lahargo yang merupakan dokter jiwa di RS Marzoeki Mahdi dan RS Siloam Bogor menjelaskan ada banyak faktor yang memicu seseorang sampai mengidap gangguan jiwa.

Pasien yang mengidap gangguan jiwa dipastikan harus mendapat penanganan medis dengan tujuan pasien dapat sembuh, entah dalam waktu berapa lama.

"Jadi faktor-faktor biologis, psikologi, sosial itu merupakan multi faktor yang dapat menyebabkan munculnya gejala gangguan kejiwaan," tuturnya.

Sebelumnya Kaopsnal Yandokpol RS Polri Kombes Edy Purnomo mengatakan SM tak ditempatkan bersama tahanan lain karena riwayat gangguan jiwa yang diidapnya.

Bila ditempatkan dalam bersama tahanan lain, dikhawatirkan SM yang ketika tiba di RS Polri dalam kondisi belum stabil dikhawatirkan menganggu perawatan pasien lain.

"Tidak boleh dicampur nanti kalau ternyata pasien menderita gangguan jiwa tentunya menganggu pasien yang lain," jelas Edy, Senin (1/7/2019).

Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved