Kualitas Udara DKI Semakin Buruk Saat Kemarau, Ini Penjelasan Dinas Lingkungan Hidup

Menurut Andono, polusi yang terjadi akibat aktivitas masyarakat Ibu Kota memiliki besaran yang sama baik saat musim hujan ataupun kemarau.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Suasana gedung bertingkat di kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa (2/7/2019). Kepala lembaga riset global Jones Lang LaSalle (JLL) James Taylor menyebutkan Jakarta menempati posisi ke-15 dalam daftar pasar investasi Asia Pasifik Pricewaterhouse Coopers, hal tersebut menunjukkan bahwa Jakarta semakin potensial untuk investasi terutama di sektor infrastruktur dan properti. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih mengungkapkan bahwa musim kemarau panjang yang terjadi akan berpengaruh terhadap tingkat pencemaran udara di Jakarta.

Menurut Andono, BMKG telah memprediksi bahwa Jakarta akan memasuki priode el nino sehingga dalam waktu tiga bulan kedepan akan mengalami musim panas berkepanjangan.

"Memasuki periode el nino prediksinya sampe tiga bulan ke depan akan panas terus gak ada ujan. Dari BMKG kalau panas kayak gini, jadi partikel-partikel yang dihasilkan oleh aktivitas di kota, ini akhirnya akan udah nutup membentuk lapisan di atmosfer," kata Andono, Rabu (3/7/2019).

Lapisan di asmosfer tersebut, terbentuk dari partikel-partikel yang sebagian besar dihasilkan oleh asap kendaraan. Hal ini menyebabkan pencemaran udara yang terjadi tetap bertahan di situ-situ saja.

Benahi Masalah Polusi, Anggota DPRD DKI Tantang Anies Baswedan Wajibkan PNS Naik Kendaraan Umum

Menurut Andono, polusi yang terjadi akibat aktivitas masyarakat Ibu Kota memiliki besaran yang sama baik saat musim hujan ataupun kemarau.

Namun saat musim hujan, lapisan admosfer tersebut "tercuci" dengan adanya air hujan.

"Itu makanya yang disebut kemarau juga punya pengaruh kepada tingkat pencemaran. Karena kemarau itu menurut BMKG dan BPPT menimbulkan efek inversi di atmosfer. Kalau ada hujan lapisan ini terbuka kan, kaya dicuci lah kotorannya. Kaya kita misalkan baju kalo kena air kan kotorannya bisa hilang," bebernya.

Dalam hal ini, ia mengimbau kepada seluruh masyarakat agar mengurangi polusi yang disebabkan oleh asap kendaraan.

Ia mengingatkan, agar sebaiknya masyarakat menggunakan angkutan umum ketika pergi ke kantor ataupun beraktifitas.

"Kalau bisa kurangi asap dari kendaraan bermotor, jika kita ke kantor atau kemana. Kalau bisa naik angkutan umum. Kan kalau angkutan umum selalu ada, misalkan busway koridor, yaudah di situ aja gak usah bawa mobil sendiri. Udah ada MRT juga," ujarnya.

Penulis: Pebby Ade Liana
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved