Mulai Bulan Januari Sampai Juni 2019 2.693 Penderita ISPA Berobat di Puskesmas Kecamatan Menteng

Yanda, sapaannya, mengatakan data 2.693 pasien yang mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) ini terhitung sejak Januari hingga Juni 2019.

Mulai Bulan Januari Sampai Juni 2019 2.693 Penderita ISPA Berobat di Puskesmas Kecamatan Menteng
TRIBUNJAKARTA.COM/MUHAMMAD RIZKI HIDAYAT
Kepala Satuan Pelayanan (Kasubag) UKP Puskesmas Kecamatan Menteng, Yanda Nur Estuningputri, setelah diwawancarai TribunJakarta.com, di gedung Puskemas Kecamatan Menteng Lantai 5, Jakarta Pusat, Kamis (4/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Muhammad Rizki Hidayat

TRIBUNJAKARTA.COM, MENTENG - Kepala Satuan Pelayanan (Kasubag) UKP Puskesmas Kecamatan Menteng, Yanda Nur Estuningputri, menyebut sekitar 2.693 pasien datang berobat ke Puskesmas Kecamatan Menteng dan mengalami ISPA.

Yanda, sapaannya, mengatakan data 2.693 pasien yang mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) ini terhitung sejak Januari hingga Juni 2019.

Sebetulnya, kata Yanda, Puskesmas Kecamatan Menteng memiliki data ihwal sepuluh penyakit terbanyak yang sering dialami sejumlah pasien.

"Memang paling banyak yang dialami pasien yaitu ISPA, sampai 2.693 sejak Januari sampai Juni 2019," kata Yanda, di gedung Puskemas Kecamatan Menteng Lantai 5, Jakarta Pusat, Kamis (4/7/2019).

Penyakit terbanyak selain ISPA, lanjutnya, yakni hipertensi, dispepsia, pengawasan terhadap kehamilan, mialgia, necrosis of pulp, nasofaringitis akut, diarrhoea dan gastroenteritis, faringitis akut, hingga konjungtivitis.

Kata Yanda, semua pasien yang datang ke Puskesmas Kecamatan Menteng ini rata-rata perempuan.

"Tapi ini kan yang datang ke kami. Bisa saja dengan asumsi bahwa kalau laki-laki mungkin dia kerja, perempuan atau ibu-ibu rumah tangga mungkin yang lebih banyak waktunya untuk berobat ke Puskesmas," jelasnya.

Menyoal penyakit ISPA, kata Yanda, ada kemungkinan dengan polusi udara di Jakarta yang kurang baik.

Sehingga, sambungnya, dapat mencemarkan virus melalui saluran pernapasan manusia.

"Kalau polusi, pencemarannya itu lebih ke zat yang terkandung kayak CO begitu. Tapi kalau penyebab dari ISPA sendiri itu memang virus," tutur Yanda.

"Jadi, ketika kita berdekatan dengan orang yang membawa virus itu, terus orang tersebut batuk atau bersin, virusnya masuk ke tubuh kita," lanjutnya.

Dia menambahkan, penyakit ISPA tidak terlalu bahaya bagi manusia.

Namun, kata Yanda, alangkah baiknya jika manusia-manusia ini dapat menjaga kesehatan.

"Ini penyakit yang ringan. Karena ISPA itu dari virus dan bisa sembuh dengan sendirinya. Jadi, baiknya kita makan yang bergizi dan cukup istirahat. Kuncinya itu, biar kita selalu sehat," ujarnya kepada TribunJakarta.com.

Penulis: Muhammad Rizki Hidayat
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved