Breaking News:

Anak-anaknya Terancam Tak Bisa Sekolah, Warga Rusunawa Marunda Minta Dikhususkan

Para orang tua ini meminta pemerintah memberikan akses khusus supaya anak-anak Rusunawa Marunda bisa masuk di tiga sekolah tersebut

Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Muhammad Zulfikar
Anak-anaknya Terancam Tak Bisa Sekolah, Warga Rusunawa Marunda Minta Dikhususkan
TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
SDN 05 Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, CILINCING - Sebanyak 100 orang anak-anak warga Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Marunda, Cilincing, Jakarta Utara terancam tak diterima masuk sekolah dalam masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2019.

Mereka terhambat masalah teknis seperti usia yang belum mencukupi untuk masuk sekolah dasar (SD) dan nilai ujian nasional yang tidak memenui kualifikasi sekolah menengah pertama (SMP).

Meski mengerti soal peraturan teknis, orang tua anak-anak tersebut mengeluhkan kemungkinan tidak diterimanya buah hati mereka ke tiga sekolah terdekat di sekitaran Rusunawa Marunda.

Para orang tua ini meminta pemerintah memberikan akses khusus supaya anak-anak Rusunawa Marunda bisa masuk di tiga sekolah tersebut, yakni SDN 02 Marunda, SDN 05 Marunda, dan SMPN 290.

Orang tua menyinggung status mereka sebagai warga relokasi dalam permintaan tersebut.

Kepada warga relokasi, pemerintah dianggap perlu memberikan keringanan agar anak-anak yang tak memenuhi syarat teknis bisa diprioritaskan masuk ke tiga sekolah yang ada.

Karjono (40), orang tua dari Citra Kirana, mengatakan bahwa anaknya tak bisa masuk ke SDN 05 karena terkendala umur.

Diketahui, Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 51 tahun 2018 yang mengatur tentang PPDB mensyaratkan usia masuk SD harus 7 tahun atau 6 tahun dengan rekomendasi psikolog profesional atau dewan guru.

Dengan adanya peraturan tersebut, otomatis anak Karjono belum dapat bersekolah tahun ini.

Sebab, anaknya masih berusia 6 tahun 5 bulan. Kendati demikian, Karjono bersikeras supaya anaknya bisa masuk sekolah tahun ini karena cemas usia anaknya di tahun depan akan lebih tua dari calon siswa lainnya di tahun depan.

"Iya kan umur anak saya 6 tahun 5 bulan, kalo susah masuk kan di tahun berikutnya udah tua," ucap Karjono saat ditemui Selasa (9/7/2019).

Warga relokasi Kalijodo itu juga mengaku anaknya sudah sangat ingin sekolah karena melihat teman sebayanya diterima masuk di tiga sekolah itu.

"Kemauan anak sudah pengen sekolah. Kan udah TK, udah wisuda, teman-temannya kan udah sekolah," kata Karjono.

Karjono juga mengaku enggan mendaftar ke sekolah swasta karena keberatan akan biayanya.

Pria yang bekerja sebagai sekuriti itu memiliki pendapatan Rp 3,9 juta per bulannya, sementara ia harus menghidupi empat orang anak dan istrinya.

Tanah Retak di Tangerang yang Viral Butuh Perhatian Pemerintahan Daerah

Pemain Persib Bandung Mendapat Pengawalan Ketat saat Datangi SUGBK

Ia juga enggan mendaftarkan anaknya ke sekolah lain karena lokasinya yang jauh dari Rusunawa.

"Paling dekat daerah Cilincing. Terus kan jalur kontener kan banyak," ucap Karjono.

Keluhan serupa juga disampaikan Bahtiar (47), orang tua dari Ika Tiara Putri (13) calon siswi SMP.

Menurut Bahtiar, anaknya gagal masuk SMP 290 yang ada di dekat Rusunawa karena nilai ujian nasionalnya rendah.

"Anak saya nggak bisa masuk. Sudah empat kali ikut tes, masalahnya nilai," kata Bahtiar.

Bahtiar sadar kalau nilai anaknya memang tak begitu tinggi dan sulit untuk bersaing dengan calon siswa siswi lainnya.

Hanya saja, ia meminta pemerintah menyediakan kebijakan khusus agar anaknya bisa bersekolah di dekat Rusunawa.

"Yang penting anaknya masuk dulu. Karena dekat dari rumah. Jadi gampang dikontrol," ucapnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved