Asal Tanah Retak Tangerang Jadi Lokasi Wisata Instagramable, karena Lumpur Naik dan Kekeringan

Tanah retak yang terletak di Pantai Anom tersebut ternyata terbuat asli dari alam tanpa ada campur tangan manusia.

Asal Tanah Retak Tangerang Jadi Lokasi Wisata Instagramable, karena Lumpur Naik dan Kekeringan
TRIBUNJAKARTA.COM/EGA ALFREDA
Tanah retak Pantai Anom yang viral mendadak menjadi lokasi instagramable di Desa Kramat, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Selasa (9/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, PAKUHAJI - Kabupaten Tangerang masih menyimpan banyak lokasi wisata alam cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan kekasih tercinta.

Seperti, Telaga Biru Cigaru, Tebing Godzilla, Hutan Solear, dan banyak lagi.

Kini bagiannya untuk tanah retak Pantai Anom, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang yang mencuri perhatian netizen karena keunikannya.

Tanah retak yang terletak di Pantai Anom tersebut ternyata terbuat asli dari alam tanpa ada campur tangan manusia.

Saat ditemui di kantornya, Kepala Desa Kramat, Nur Alam mengatakan, tanah retak tersebut berawal sejak enam bulan yang lalu saat meluapnya air Sungai Cisadane.

"Sempat banjir, tanggul ada yang jebol sekitar enam bulan lalu. Sehingga lumpur naik ke Pantai Anom, dan sekarang musim kering air surut jadi tanah kering dan retak seperti sekarang," jelas Nur Alam di kantornya, Selasa (9/8/2019).

Menurutnya, kawasan yang kini jadi sasaran orang yang ingin konten menarik tersebut awalnya hanya bantara pasar lalu bercampur dengan lumpur.

Tanah retak Pantai Anom yang viral mendadak menjadi lokasi instagramable di Desa Kramat, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Selasa (9/7/2019).
Tanah retak Pantai Anom yang viral mendadak menjadi lokasi instagramable di Desa Kramat, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Selasa (9/7/2019). (TRIBUNJAKARTA.COM/EGA ALFREDA)

Setelah tidak turun hujan sejak Lebaran kemarin, lumpur menjadi keras, kering, dan retak-retak karena kekeringan berkepanjangan

"Jadilah seperti sekarang, pohon yang tumbuh di atasnya juga ikut kering dan mati," sambung Nur Alam.

Halaman
12
Penulis: Ega Alfreda
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved