Breaking News:

Kekurangan Sekolah Negeri, 100 Anak di Rusunawa Marunda Terancam Tak Dapat Sekolah

Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Utara Momon Sulaeman mengatakan kuota untuk SDN 02 dan SDN 05 Marunda tidak mencukupi

TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
SDN 05 Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, CILINCING - Penyebab 100 anak-anak Rusunawa Marunda terancam tidak dapat sekolah negeri lantaran banyaknya peminat dan terbatasnya kuota.

Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Utara Momon Sulaeman mengatakan kuota untuk SDN 02 dan SDN 05 Marunda tidak mencukupi.

Padahal, peminat yang merupakan warga Rusunawa sangat banyak. Alhasil, 61 anak-anak calon siswa SD tidak mendapatkan tempat.

"Untuk SD 02 dan 05, memang di situ peminatnya banyak termasuk warga rusun. Untuk SD 05 sudah penuh semua, dan itu juga mayoritas kita mengutamakan warga rusun," terang Momon, Selasa (9/7/2019).

Momon mengaku bahwa keberadaan SD Negeri di dekitar Rusunawa Marunda memang terbatas.

Hal itu bertabrakan dengan banyaknya anak-anak di Rusunawa Marunda yang dalam usia jelang sekolah.

Sementara itu, orang tua anak-anak tersebut juga enggan mendaftarkan buah hati mereka ke sekolah swasta karena keberatan akan biayanya.

Adapun pertimbangan penambahan rombongan belajar juga harus dipikirkan matang-matang.

"Kan mereka sekarang terima lima kelas, kelas 1, kalau nanti ditambah lagi otomatis tahun depan harus nambah juga," ungkapnya.

Tony Sucipto Anggap Tidak Ada yang Spesial Dalam Laga Persija Jakarta Vs Persib Bandung

Jelang Persija Jakarta vs Persib Bandung, Robert Rene Alberts Singgung Kekuatan Macan Kemayoran

"Sebenarnya sekolah di situ sudah mengutamakan warga rusun tetapi karena warga rusun cukup banyak, akhirnya belum tertampung semua," imbuh Momon.

Wakil Kepala Sekolah SD 05 Marunda, Wati Suwarti menjelaskan, pada tahun ini dibuka tiga kelas untuk 96 orang calon peserta didik baru.

"Satu kelas masing-masing 32 siswa. Penerimaan juga sudah sesuai dengan peraturan dan dinas yang menentukan," terangnya.

Wati memerinci, dari jumlah tersebut 1 orang masuk melalui jalur afirmasi, 55 orang jalur zonasi umum, 24 orang dari DKI, 5 orang dari non DKI jalur non zonasi tahap 1, serta 11 orang jalur non zonasi tahap 2.

"Kalau untuk usia, zonasi umum paling tua 9 tahun 5 bulan dan paling muda 6 tahun 9 bulan," tutupnya.

Penulis: Gerald Leonardo Agustino
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved