Pekerjakan Penyandang Disabilitas, Co Founder dan CEO Sunyi House Harus Belajar Bahasa Isyarat

Keberadaan Sunyi House, jelas Almaz, sekaligus menjadi pembuktian jika penyandang disabilitas juga bisa berkarya dan bekerja secara profesional

Pekerjakan Penyandang Disabilitas, Co Founder dan CEO Sunyi House Harus Belajar Bahasa Isyarat
TribunJakarta.com/Annas Furqon Hakim
Suasana di Sunyi House of Coffee and Hope di kawasan Fatmawati, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (9/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Annas Furqon Hakim

TRIBUNJAKARTA.COM, CILANDAK - Lima anak muda jebolan Universitas Prasetiya Mulya, Cilandak, Jakarta Selatan, memiliki mimpi untuk merintis bisnis bersama.

Namun, bukan sekadar mencari keuntungan dari bisnis tersebut. Melainkan berdampak positif bagi orang lain.

Pada 3 April 2019, berdirilah Sunyi House of Coffee and Hope, yang letaknya tak jauh dari tempat Mario, Almaz, Fernaldo, Yoreno, dan Irfan menempuh pendidikan terakhirnya.

Mereka pun sepakat untuk mempekerjakan para penyandang disabilitas di Sunyi House.

Total, ada lima pekerja yang semuanya merupakan penyandang disabilitas. Empat di antaranya adalah tunawicara dan tunarungu, sedangkan satu lainnya tunadaksa.

Almaz, Co Founder dan CEO Sunyi House, menceritakan proses awal berdirinya gerai kopi ini.

Ia menjelaskan, ide awal berdirinya Sunyi House diinisiasi oleh Mario selaku founder.

"Dia itu jiwa sosialnya cukup tinggi. Social work-nya sudah keliling Indonesia. Suatu saat dia ke Singapura, dia nemuin perkembangan teman-teman disabilitas di sana sudah maju banget. Lapangan pekerjaan juga sangat terbuka," kata Almaz saat ditemui TribunJakarta.com, Selasa (9/7/2019).

Komentar Ketua Fraksi Nasdem DPRD DKI soal Keberangkatan Anies Baswedan ke Kolumbia

Sunyi House, Gerai Kopi yang Didedikasikan untuk Penyandang Disabilitas

"Dari situ Mario punya inspirasi, bisa nggak sih kita meningkatkan kerjabilitas teman-teman disabilitas ini," tambahnya.

Tantangan dirasakan Almaz dkk ketika masih melatih para karyawannya. Sebagai non-disabilitas, ia dan keempat rekannya mengaku harus menyesuaikan diri.

"Kita sempat belajar bahasa isyarat juga selama enam bulan," ungkap Almaz.

Keberadaan Sunyi House, jelas Almaz, sekaligus menjadi pembuktian jika penyandang disabilitas juga bisa berkarya dan bekerja secara profesional.

"Semoga makin banyak yang menyediakan lapangan kerja untuk mereka. Kalau nggak ada kita, susah sih," tutur Almaz.

Penulis: Annas Furqon Hakim
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved