Penasihat Hukum Siap Banding Jika Terdakwa Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi Divonis Hukuman Mati

Alam Simamora selaku penasihat hukum terdakwa pembunuhan satu keluarga di Bekasi, Haris Simamora siap banding jika hakim memvonis hukuman mati.

Penasihat Hukum Siap Banding Jika Terdakwa Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi Divonis Hukuman Mati
TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
Terdakwa kasus pembunuhan satu keluarga Haris Simamora saat akan keluar ruangan sidang Pengadilan Negeri Bekasi, Jalan Pramuka, Bekasi Selatan, (22/4/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI SELATAN - Alam Simamora selaku penasihat hukum terdakwa pembunuhan satu keluarga di Bekasi, Ari Sandigon alias Haris Simamora siap mengajukan banding jika hakim memvonis hukuman mati.

"Kita banding (jika putusan hakim hukuman mati), kita akan lakukan segala upaya hukum untuk memberikan suatu keadilan kepada terdakwa," kata Alam usai sidang duplik di Pengadilan Negeri Kelas 1A Bekasi, Senin (8/7/2019) kemarin.

Dia menjelaskan, penasihat hukum dalam hal ini konsisten membantah dalil tuntutan yang didakwakan penuntut umum kepada Haris terkait hukuman pidana mati karena dianggap melanggar pasal 340 pembunuhan berencana.

"Kita tetap mempertahankan pledoi kita terdahulu, dari perjalanan sidang sampai kepada replik, jaksa tidak bisa membuktikan satu alat bukti bahwa terdakwa melakukan tindak pidana (pasal 340) kecuali hanya pengakuan terdakwa, jadi sangat lemah sekali," ungkap Alam.

Pensihat hukum dalam hal ini meyakini terdakwa bersalah melakukan tindak pidana menghilangkan nyawa korban. Namun tindak pidana itu tidak sama dengan apa yang didakwakan penuntut umum dimana Haris melakukan pembunuhan secara berencana.

"Tuntutan pidana mati yang diajukan penuntut umum dalam surat tuntutannya hanyalah didasarkan atas pembuktian yang lemah," ujarnya.

Alam meminta kepada mejelis hakim untuk mempertimbangkan kembali dalil pengakuan serta fakta persidangan yang selama ini telah terbuka. Bahwa, sejatinya terdakwa melakukan perbuatannya bukan atas dasar niat seperti yang disebut penuntut umum.

"Sebenarnya dalil pembunuhan berencana itu terbantahkan dengan dalil di fakta persidangan. Pertama, terdakwa datang ke rumah korban atas dasar diundang, kedua terdakwa melakukan perbuatannya karena kesal dihina, ketiga dia melihat linggis dan membunuh berlangsung seketika tanpa jeda waktu," kata Alam usai persidangan.

Adapun jika mejelis hakim tidak mengabulkan dakwaan primer yang dibacakan penuntut umum dalam hal ini, pasal 340 tentang pembunuhan berencana, Haris dikenakan dakwaan subsidair pasal 338 tentang pembunuhan.

Halaman
1234
Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved