Ketimbang Bangun PLTN, Mbah Rono Sarankan Memaksimalkan Potensi Energi Terbarukan

energi panas bumi maupun energi terbarukan mesti diberikan ruang sebagai alternatif pengganti energi yang sudah dipakai selama ini.

Ketimbang Bangun PLTN, Mbah Rono Sarankan Memaksimalkan Potensi Energi Terbarukan
Istimewa
Mantan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Surono atau akrab disapa Mbah Rono menyarankan agar Indonesia dapat memaksimalkan potensi panas bumi dan energi terbarukan 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Mantan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Surono atau akrab disapa Mbah Rono menyarankan agar Indonesia dapat memaksimalkan potensi panas bumi dan energi terbarukan lainnya yang terkandung di bumi Nusantara ini.

Ketimbang membangun pembangkit listrik dari energi lain seperti nuklir.

Hal tersebut disampaikan Mbah Rono saat memaparkan potensi energi panas bumi dan energi terbarukan yang terkandung ditanah Jawa Tengah dalam sebuah diskusi yang diadakan di gedung Pascasarjana Universitas Diponegoro (Undip), Selasa (9/7/2019) lalu.

Menurutnya, selain risikonya yang cukup tinggi, energi selain panas bumi dan energi terbarukan lainnya dalam hal ini energi dari nuklir memiliki dampak yang cukup serius bila suatu waktu mengalami insiden.

"Tidak perlu membangun pembangkit listrik dari energi nuklir karena Jateng merupakan daerah yang memiliki tanah patahan yang rawan gempa sehingga berbahaya lebih baik memanfaatkan energi lain seperti panas bumi dan tenaga Surya," kata Mbah Rono.

Yang jelas, kata dia, energi panas bumi maupun energi terbarukan mesti diberikan ruang sebagai alternatif pengganti energi yang sudah dipakai selama ini.

"Selain dipikirkan sebagai alternatif, energi panas bumi dan energi terbarukan ini juga musti ditopang regulasi yang memadai. Regulasi diperlukan sebagai upaya melindungi dan memaksimalkan pemanfaatan energi tersebut guna kemaslahatan bangsa dan negara ini," tandas Mbah Rono.

Cegah Penyakit Akibat Kualitas Udara Buruk, Dinkes Minta Masyarakat Lakukan Pola Hidup CERDIK

Kendati demikian, Surono juga tak menampik adanya potensi bencana alam yang sewaktu-waktu dapat mengancam apapun termasuk keberadaan pembangkit listrik dari energi panas bumi.

"Meskipun dibayang-bayangi adanya ancaman bencana alam, namun tingkat resikonya tidak seperti kalau kita menggunakan energi nuklir," katanya.

Sementara itu, Mantan Menteri ESDM era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan, kekayaan sumber daya alam Indonesia termasuk energi terbarukan sangat berlimpah.

"Itu artinya potensi energi non fosil yang kita miliki sangat besar untuk dikembangkan ke depannya sebagai energi alternatif," kata dia.

Menurut catatannya, energi terbarukan yang terkandung di negeri ini pemanfaatannya belum maksimal.

"Dari tenaga air saja kita memiliki cadangan sebesar 75.670 MW, panas bumi sebesar 27.670 MW, Bioenergi 49.810 MW, Tenaga Surya 207.898 MW dan tenaga angin 9.290 MW. Dari itu semua belum atau masih dibawah 10% pemanfaatannya. Air baru dimanfaatkan 6,75%, panas bumi 6,5%, bioenergi 3,6%, tenaga Surya 1,4% dan tenaga angin 0,01%. Sangat kecil sekali kalau dilihat dari prosentase pemanfaatannya," ungkapnya.

Menurutnya, keberpihakan negara terkait pengembangan energi terbarukan ini memang diperlukan.

"Kebijakan energi Nasional yang disusun tahun 2014 lalu mesti di-update dan disesuaikan guna menopang perkembangan energi terbarukan ini. Selain mengupdate kebijakan, komitmen kebijakan pemerintah terkait hal ini juga sangat diperlukan," tandasnya.

Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved