Ini Alasan Ratusan Jalak Bali Hasil Penangkaran Tidak Dilepas ke Alam Bebas

Jalak Bali atau Leucopsar Rothschildi menjadi salah satu satwa yang dilindungi di Indonesia. Hal ini disebabkan karena populasinya terancam punah.

Ini Alasan Ratusan Jalak Bali Hasil Penangkaran Tidak Dilepas ke Alam Bebas
TribunJakarta/Nur Indah Farrah Audina
Hibah Jalak Bali dari BKSDA Jakarta ke Taman Burung TMII, Jumat (12/7/2019) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, TAMAN MINI - Jalak Bali atau Leucopsar Rothschildi menjadi salah satu satwa yang dilindungi di Indonesia. Hal ini disebabkan karena populasinya terancam punah.

Untuk itu para penangkaran resmi dan diakui Pemerintah ikut membantu proses pengembang biakan jenis burung pengicau yang berukuran sedang itu.

Beberapa penangkaran resmi bahkan ada yang menghibahkan Jarak Bali kepada Pemerintah melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta.

Satu diantaranya ialah UD Sahabat Bird Farm yang terletak di Jakarta Utara. Penangkaran resmi milik Hatoyo Kurdi menghibahkan 100 ekor Jalak Bali ketika izin resmi penangkarannya tidak lagi perpanjang dengan alasan tertentu.

Kemudian oleh BKSDA Jakarta, ratusan Jalak Bali tersebut dititipkan kembali ke berbagai Lembaga Komservasi resmi seperti Taman Burung Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Taman Margasatwa Ragunan dan sebagainya.

Dititipkannya Jarak Bali tentunya memiliki alasan tertentu dan sudah melalui proses kordinasi yang baik antar BKSDA Jakarta dan Lembaga Konservasi.

Menurut Kepala unit Taman Burung, drh Muhammad Pitter Kombo mengungkapkan alasan satwa penangkaran tidak langsung dilepas ke alam terbuka walaupun usianya terbilang cukup.

"Jadi alasan penangkar tidak melepas liarkan hasil penangkarannya itu karena satwanya sudah keturunan ketiga ke bawah. Dimana insting alaminya, kemampuan untuk bertahan hidup, mencari makan dan lain sebagainya biasanya sudah berubah. Sehingga tidak cocok untuk tidak dilepas liarkan," ungkapnya, Jumat (12/7/2019).

Satwa di penangkaran sudah terbiasa dan beradaptasi oleh lingkungan yang ada. Mulai dari perlakuan yang berbeda, sisi pakannya sampai dengan keseharian yang berbeda dengan alam bebas.

Ketika satwa dari penangkaran sudah terbiasa dengan prlakuan berbeda maka tidak akan siap untuk dilepas ke alam terbuka. Bahkan akan bersifat membunuh untuk satwa tersebut.

VIDEO Grafiti di RPTRA Gondangdia yang Instagramable

Si Jago Merah Hanguskan Dua Ruang Tidur Sebuah Bengkel di Depok

Sehari di Penampungan, Pengungsi dari Timur Tengah Keluhkan Makanan, Air Bersih dan Toilet

"Mereka tidak akan survive. Sebab mulai dari kecil perlakuannya berbeda. Ketika mereka di hutan tidak bisa menemukan pakan yang biasa dimakan sepertu dipenangkaran, maka mereka akan kesulitan untuk bertahan. Oleh sebab itu kita lembaga konservasi biasanya dipilih untuk penitipannya," sambungnya.

Nantinya melalui Lembaga Konservasi, para satwa akan diberikan perlakuan tersendiri sesuai dengan kebutuhannya. Ketika dirasa satwa tersebut bisa dilepas di alam terbuka, maka hal tersebut akan dilakukan.

Bahkan Taman Burung bisa menjadikan 38 Jalak Bali yang dihibahkan dari BKSDA Jakarta untuk menjadi satwa koleksinya dengan bersurat dan meminta izin.

Penulis: Nur Indah Farrah Audina
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved