Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Larang Siswa Menggunakan Kendaraan Bermotor ke Sekolah

Dinas Pendidikan DKI Jakarta meminta agar para siswa naik layanan gratis bus sekolah yang sudah disediakan pemerintah

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Larang Siswa Menggunakan Kendaraan Bermotor ke Sekolah
TribunJakarta.com/Pebby Adhe Liana
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Ratiyono di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (9/4/2019). 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Dinas Pendidikan DKI Jakarta gencar melakukan pengurangan penggunaan kendaraan bermotor di lingkungan sekolah.

Selain melarang para siswa khususnya di jenjang SMA ataupun SMK agar tak membawa motor, Dinas Pendidikan DKI Jakarta meminta agar para siswa naik layanan gratis bus sekolah yang sudah disediakan pemerintah.

"Ya sebaiknya anak-anak jangan bawa motor, itu (naik) sepeda atau mobil jemputan. Kan bus sekolah banyak, dan adem, ya berdiri sebentar gak apa-apa," kata Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Ratiyono saat dikonfirmasi, Minggu (14/7/2019).

Peserta didik, dilarang keras untuk membawa kendaraan bermotor. Pihak sekolah pun diminta agar tidak menyediakan lahan parkir untuk para siswa.

Hal ini mengingat kualitas udara di Jakarta sedang menurun akibat polusi yang terjadi karena efek kendaraan bermotor.

"Jangan bawa kendaraan karena gak ada tempat parkir. Apalagi anak SMP belum punya SIM, orangtua harus mendidik. Orangtua disarankan cari solusi misalnya dengan beli sepeda," kata dia.

Ratiyono pun menyarankan agar para orangtua murid ikut berkontribusi dalam melakukan gerakan hidup sehat dengan membelikan anak-anak sepeda agar tak lagi pakai motor saat ke sekolah.

Kadisdik DKI Jakarta Larang Peserta Didik Baru Bawa Perlengkapan MOS saat Hari Pertama Sekolah

H-1 Masuk Sekolah, Orang Tua Bawa Anaknya Berlibur di Pantai Ancol

Para siswa, dianjurkan untuk berjalan kaki ketika jarak dari rumah ke sekolah berdekatan. Selain itu, jika berjarak cukup jauh mereka disarankan agar menggunakan sepeda atau bus sekolah.

Jika tidak terlalu dibutuhkan, para orangtua murid pun diimbau agar tak mengantar jemput sang anak saat berangkat ataupun pulang sekolah kecuali saat terdesak.

"Misalnya, di depan SMA Santa Ursula Lapangan Banteng, itu kan macet banget, banyak (mobil jemputan). Misalnya ada 16 orang saja pakai bus sekolah sehingga nanti yang biasanya parkir 16 mobil jemputan jadi hanya satu doang bus itu. Nah yang deket jalan kaki," kata dia.

"Yang penting kita mengajak masyarakat, kita sadarkan. Jangan sebentar-sebentar sanksi. Coba dibuat rasa tanggung jawab jangan semua diancam. Coba kita ajak supaya kesadaran bersama untuk mengurangi pencemaran udara," bebernya.

Penulis: Pebby Ade Liana
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved