Momen Libur Sekolah, Pedagang Buku Tulis Asal Cikampek Ini Sengaja Merantau ke Koja

Aryo selalu mendorong gerobak berisi buku tulis dan alat tulis kantor lainnya untuk dijajakan di depan JIC.

Tayang:
Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Muhammad Zulfikar
TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
Aryo (39), pedagang buku tulis musiman, dekat gerobaknya saat berada di depan Jakarta Islamic Centre, Koja, Jakarta Utara, Minggu (14/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, KOJA - Pedagang buku tulis musiman menjamur di depan Jakarta Islamic Centre (JIC), Koja, Jakarta Utara, Minggu (14/7/2019).

Mereka datang dari berbagai daerah demi mencari untung di sela-sela masa liburan sekolah.

Salah satunya ialah Aryo (39), pedagang buku tulis yang sengaja datang dari Cikampek.

Aryo mengaku sudah berada di Jakarta Utara selama dua pekan belakangan.

Ia sudah memutuskan untuk berjualan buku tulis di depan JIC, karena sejak 2010 ia sudah melakukan hal tersebut.

"Saya dari tahun 2010 udah sengaja jualan di sini, setiap mau masuk sekolah," ucap Aryo saat ditemui TribunJakarta.com sore ini.

Dari Cikampek, Aryo mencari tempat tinggal sementara di Jakarta Utara. Ia akhirnya menetap sementara di sebuah indekos di wilayah Rawa Badak Utara.

Dari sana, setiap harinya selama dua pekan terakhir, Aryo selalu mendorong gerobak berisi buku tulis dan alat tulis kantor lainnya untuk dijajakan di depan JIC.

"Kalo saya ngekos di Rawa Badak Utara. Emang kebanyakan jualan buku musiman pake gerobak gini," ucapnya.

Aryo mengakui bahwa sembilan tahun terakhir, berjualan buku tulis jelang tahun ajaran baru termasuk cukup menguntungkan.

Ia bisa menjual 5-30 pak buku tulis setiap harinya selama dua pekan terakhir.

Kebanyakan pembeli buku tulis, kata Aryo, adalah orang tua yang tengah mempersiapkan perlengkapan sekolah bagi anaknya.

Warga Bekasi Diminta Bersabar Hadapi Kamacetan Imbas Pembangunan Proyek Tol

Beberkan Percakapannya dengan Sang Ibu, Salmafina Sunan: Tak Pernah Henti Kakak Minta Maaf

Satu pak buku, tergantung jenisnya, dijual paling murah seharga Rp 35 ribu per pak dan paling mahal seharga Rp 65 ribu per pak.

"Lumayan, kalo kayak saya sehari minimal bisa jualan 5 pak, paling banyak bisa 20-30 pak," terangnya.

Meski begitu, Aryo mengaku bahwa berjualan buku tulis tidak sama untungnya ketimbang saat ia bekerja di kampungnya.

Di Cikampek, sehari-hari, Aryo bekerja sebagai pedagang mainan anak-anak. Ia mengaku pendapatan dalam berdagang mainan memang lebih besar dibanding berjualan buku tulis.

"Tapi momennya kan pas jelang masuk sekolah, jadi ya untungnya juga lumayan. Ngeliat peluang aja," tutup Aryo.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved