Cerita Yani Tukang Jamu Gendong Asal Depok, Tiap Hari Jalan Kaki Bawa Beban 15 Kilogram

Waktu sudah hampir pukul 17.00 WIB, Yani (37) penjual jamu gendong segera bergegas meninggalkan kawasan Stasiun Depok Baru untuk kembali ke rumahnya.

Cerita Yani Tukang Jamu Gendong Asal Depok, Tiap Hari Jalan Kaki Bawa Beban 15 Kilogram
TribunJakarta.com/Dwi Putra Kesuma
Yani tukang jamu lgendong asal Kota Depok ketika melintas didepan Kantor Wali Kota Depok, Pancoran Mas, Senin (15/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS - Waktu sudah hampir pukul 17.00 WIB, Yani (37) segera bergegas meninggalkan kawasan Stasiun Depok Baru untuk kembali ke rumahnya.

"Buru-buru, belum nyiapin makan buat suami sama anak," ucap Yani dijumpai TribunJakarta.com di depan Kantor Wali Kota Depok, Pancoran Mas, Kota Depok, Senin (15/7/2019).

Yani adalah seorang penjual jamu keliling yang berdagang menggunakan sistem pikul atau digendong.

"Kalau saya kan setiap hari pasti di Stasiun, kalau naik sepeda sulit gabisa masuk Stasiun. Tapi ada juga kok yang jamu sepeda, biasanya itu yang kalau rumahnya jauh," ucap Yani.

Profesi menjadi tukang jamu pikul keliling, sudah ditekuni Yani sejak sekiranya 10 tahun silam.

Awal berjualan, Yani menuturkan dirinya sempat mengalami pegal-pegal hingga penyakit tulang encok lantaran membawa beban botol-botol berisi jamunya.

"Awal jualan sih pegal-pegal, sakit semua badan encok. Kan belum terbiasa bawa beban gini, tapi kalau sekarang mah sudah biasa. Jadi dulu kalau pegal minum jamu buatan sendiri, tukang jamu minum jadinya," ujar Yani tertawa.

Seiring berjalannya waktu, Yani pun mulai terbiasa membawa beban berat dibagian punggungnya.

Bahkan, setiap hari dirinya mampu membawa beban hingga seberat 15 kilogram lebih berkeliling Stasiun Depok Baru.

"Ini kalau full pas saya keluar rumah bisa 15 sampai 20 kilogram mas, kaya kencur bawa dua botol, kemudian pahit dua botol, terus jahe dua botol, belum ditambah termos air panas sama botol yang lainnya," kata Yani sembari menyiapkan segelas jamu sehat pegal linu.

Sedikit bercerita, Yani mengatakan pendapatan kotornya setiap hari dari berjualan jamu bisa menyentuh angka Rp 300 ribu.

Kendaraan ASN Tidak Lulus Uji Emisi Tahap II Dilarang Parkir di Gedung Parkir Wali Kota Jakut

Tanggapi Spanduk Penolakan, Pengungsi Minta Warga Mengerti Keadaan Mereka

Dari pendapatannya tersebut, ia gunakan untuk modalnya berjualan esok hari dan sisanya disisihkan untuk keperluan rumah tangga dan tabungannya.

"Kalau kotor sehari bisa Rp 300 ribu, buat modal lagi sama biaya dapur. Buat anak sekolah juga. Suami saya kerja serabutan, jadi saya juga mau kerja buat bantu keluarga saya," pungkasnya.

Penulis: Dwi putra kesuma
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved