Terjadi Besok 17 Juli Gerhana Bulan Bisa Terlihat dari Langit Indonesia dan Seputar Salat Gerhana

Belum lama ini pihak BMKG Indonesia mengumumkan bila gerhana bulan sebagian terakhir di tahun 2019 akan terjadi di minggu ini.

Penulis: Wahyu Aji Tribun Jakarta | Editor: Erik Sinaga
TRIBUN PEKANBARU/MELVINAS PRIANANDA
Fase dari gerhana bulan total yang tampak dari Kota Pekanbaru, Riau, Rabu (8/10/2014). TRIBUN PEKANBARU/MELVINAS PRIANANDA 

TRIBUNJAKARTA.COM - Bagi para penikmat fenomena langit, kesempatan yang tak bisa dilewatkan.

Belum lama ini pihak BMKG Indonesia mengumumkan bila gerhana bulan sebagian terakhir di tahun 2019 akan terjadi di minggu ini.

Menariknya, gerhana bulan sebagian terakhir di tahun 2019 ini dapat diamati secara langsung dengan kasat mata di Indonesia.

Melansir Kompas.com, gerhana bulan sebagian ini pertama kali akan muncul pada Rabu dini hari (17/7/2019) waktu Indonesia.

Tak hanya di Indonesia, gerhana bulan sebagian ini juga dapat diamati dengan mata telanjang di Amerika Selatan, Eropa, Afrika, Asia dan Australia.

Satu-satunya wilayah yang tak bisa melihat fenomena alam ini adalah Amerika Utara dan Amerika Serikat.

Dilansir dari laman resmi BMKG, gerhana bulan merupakan peristiwa alam yang kerap terjadi.

Gerhana bulan adalah peristiwa terhalanginya penampakan bulan oleh bayangan bumi sehinggan cahaya matahari tak sampai ke bulan.

Hal ini terjadi apabila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus.

Namun pada tahun ini, gerhana bulan yang terjadi akan menghasilkan gerhana bulan sebagian karena posisi bulan akan sedikit miring dari garis langsung bayangan bumi.

Fenomena alam ini terjadi dua minggu setelah gerhana matahari total terlihat di Amerika Selatan.

Menurut Marufin Sudibyo, Astronomo amatir di Indonesia, fenomena gerhana bulan sebagian yang terjadi besok dini hari adalah momen yang spesial dan sayang untuk dilewatkan.

Pasalnya, ini adalah gerhana bulan terakhir di tahun 2019 dan tak kan ada fenomena seperti ini lagi setidaknya hingga dua tahun kedepan.

"Ini adalah gerhana Bulan terakhir di 2019, sekaligus gerhana bulan kasatmata terakhir hingga setidaknya dua tahun ke depan," ujar Marufin kepada Kompas.com, Senin (15/7/2019).

Pakar ahli astronomi Indonesia pun mengatakan tak akan ada gerhana bulan yang bisa diamati mata telanjang lainnya hingga bulan Mei 2021 mendatang.

"Pada 2020 ada empat gerhana bulan, tapi semuanya gerhana samar (penumbral) yang nyaris tak bisa dibedakan dengan purnama sempurna biasa kecuali oleh pengamat berpengalaman atau dengan menggunakan bantuan kamera DSLR atau teleskop," imbuh Marufin.

Melansir laman resmi BMKG, fenomena alam ini dapat diamati mulai pukul 3.01 WIB.

Puncak fasenya akan muncul pada pukul 4.30 WIB dan berakhir pada 6.00 WIB.

Gerhana bulan sebagian ini pun diperkirakan akan berlangsung selama 2 jam 58 menit.

Menariknya, gerhana bulan ini terjadi bertepatan dengan peringatan 50 tahun meluncurnya roket Apollo 11 dalam misi NASA mendaratkan manusia di bulan.

Tata cara, niat dan bacaan doa sholat gerhana

Tata cara Salat Gerhana
Tata cara Salat Gerhana (ISTIMEWA)

Sholat gerhana bulan Rabu 17 Juli 2019 dapat dikerjakan secara sendiri, berikut tata cara salat gerhana bulan sendirian, 

Rabu 17 Juli 2019 akan terjadi fenomena gerhana bulan parsial, adapun umat Islam dianjurkan untuk menunaikan sholat gerhana.

Amalan yang dianjurkan untuk dilaksanakan ketika gerhana bulan terjadi adalah salat gerhana.

Salat gerhana bulan dapat dilakukan sendirian dan tidak selalu berjamaah di masjid.

Pendapat ini dipegang oleh Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki. Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki menyebutkan tata cara shalat gerhana bulan menurut Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki dalam Ibanatul Ahkam, Syarah Bulughul Maram sebagai berikut:

وقالت الحنفية صلاة الخسوف ركعتان بركوع واحد كبقية النوافل وتصلى فرادى، لأنه خسف القمر مرارا في عهد الرسول ولم ينقل أنه جمع الناس لها فيتضرع كل وحده، وقالت المالكية: ندب لخسوف القمر ركعتان جهرا بقيام وركوع واحد كالنوافل فرادى في المنازل وتكرر الصلاة حتى ينجلي القمر أو يغيب أو يطلع الفجر وكره إيقاعها في المساجد جماعة وفرادى

Artinya, “Kalangan Hanafi mengatakan, shalat gerhana bulan itu berjumlah dua rakaat dengan satu rukuk pada setiap rakaatnya sebagai shalat sunah lain pada lazimnya, dan dikerjakan secara sendiri-sendiri.

Pasalnya, gerhana bulan terjadi berkali-kali di masa Rasulullah SAW tetapi tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasul mengumpulkan orang banyak, tetapi beribadah sendiri.

Gerhana bulan
Gerhana bulan ()

Kalangan Maliki menganjurkan shalat sunah dua rakaat karena fenomena gerhana bulan dengan bacaan jahar (lantang) dengan sekali rukuk pada setiap kali rakaat seperti shalat sunah pada lazimnya, dikerjakan sendiri-sendiri di rumah.

Shalat itu dilakukan secara berulang-ulang sampai gerhana bulan selesai, lenyap, atau terbit fajar. Kalangan Maliki menyatakan makruh shalat gerhana bulan di masjid baik berjamaah maupun secara sendiri-sendiri,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam Syarah Bulughul Maram, Beirut, Darul Fikr, cetakan pertama, 1996 M/1416 H, juz I, halaman 114).

Sebelum shalat ada baiknya seseorang melafalkan niat terlebih dahulu sebagai berikut:

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Saya shalat sunah gerhana bulan dua rakaat karena Allah SWT.”

Adapun secara teknis, shalat sunah gerhana bulan sendirian menurut Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki adalah sebagai berikut.

1. Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram.

2. Mengucap takbir ketika takbiratul ihram sambil niat di dalam hati.

3. Baca ta‘awudz dan Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca salah satu surat pendek Al-Quran dengan jahar (lantang).

4. Rukuk.

5. Itidal.

6. Sujud pertama.

7. Duduk di antara dua sujud.

8. Sujud kedua.

9. Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua.

10. Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama dengan rakaat pertama. Durasi pengerjaan rakaat kedua lebih pendek daripada pengerjaan rakaat pertama.

11. Salam.

12. Istighfar dan doa.

Shalat sunah gerhana bulan juga dapat dikerjakan dengan ringkas.

Seseorang membaca Surat Al-Fatihah saja pada setiap rakaat tanpa surat pendek atau dengan surat pendek.

Ini lebih ringkas seperti keterangan Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam I’anatut Thalibin berikut ini:

ولو اقتصر على الفاتحة في كل قيام أجزأه، ولو اقتصر على سور قصار فلا بأس

Artinya, “Kalau seseorang membatasi diri pada bacaan Surat Al-Fatihah saja, maka itu sudah memadai.

Tetapi kalau seseorang membatasi diri pada bacaan surat-surat pendek setelah baca Surat Al-Fatihah, maka itu tidak masalah,” (Lihat Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, Beirut, Darul Fikr, 2005 M/1425-1426 H, juz I, halaman 303).

Waktu Gerhana Bulan Rabu 17 Juli 2019

Gerhana bulan parsial Rabu 17 Juli 2019 adalah peristiwa langit di mana sebagian wajah bulan masuk bayangan umbra atau bayangan gelap pada bumi.

Sekitar 65 persen wajah bulan akan berwarna merah.

Sementara isinya akan terlihat putih seperti biasanya.

Gerhana bulan Rabu 17 Juli 2019 akan terjadi dini hari sekitar pukul 03.01 WIB sampai pukul 05.59 WIB.

Meski akan terlihat di seluruh wilayah Indonesia, gerhana bulan parsial ini paling baik diamati di wilayah Indonesia bagian barat.

Sementara untuk wilayah bagian tengah, puncak gerhana bulan akan terjadi sekitar pukul 05.30 WITA saat matahari terbit.

Bersiaplah, Gerhana Bulan 28 Juli Nanti Digadang-gadang Akan Jadi yang Terlama di Abad 21
Bersiaplah, Gerhana Bulan 28 Juli Nanti Digadang-gadang Akan Jadi yang Terlama di Abad 21 (Grafis Tribun Jakarta / National Geographic)

Sedangkan bagi wilayah Indonesia bagian timur, gerhana bulan terjadi pukul 06.30 WIT di saat matahari sudah terbit dan langit sudah terang.

Menariknya, gerhana bulan di Indonesia dapat diamati dengan mata telanjang.

Kendati demikian, pengamatan dengan teleskop akan membuat gerhana bulan parsial terlihat lebih jelas.

Dikutip TribunStyle.com dari Time and Date, total durasi gerhana umumnya adalah 5 jam 34 menit.

Sementara itu, durasi gerhana bulan parsial terakhir di tahun 2019 ini akan terjadi selama 2 jam 58 menit.

Seperti diketahui, gerhana bulan parsial Rabu 17 Juli 2019 akan menjadi gerhana bulan penutup di tahun 2019.

Jenis Gerhana Bulan

Menurut Eclipsewise, gerhana bulan berikutnya baru akan terjadi pada awal Januari 2020, tepatnya pada tanggal 10 Januari 2019.

Dari sumber yang sama, gerhana bulan total berikutnya akan terjadi pada 26 Mei 2021 sedangkan gerhana bulan parsial berikutnya terjadi pada 19 November 2021.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sebelumnya juga menyampaikan waktu gerhana bulan setelah 2019 seperti dalam daftar berikut ini:

1. Gerhana bulan penumbra 11 Januari 2020

2. Gerhana bulan penumbra 6 Juni 2020

3. Gerhana bulan penumbra 30 November 2020

4. Gerhana bulan total 26 Mei 2021

5. Gerhana bulan penumbra 19 November 2021

6. Gerhana bulan total 8 November 2022

7. Gerhana bulan penumbra 5-6 Mei 2023

8. Gerhana bulan sebagian 29 Oktober 2023. (TribunStyle/Grid)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved