Cerita Petugas Panti Orang dengan Gangguan Jiwa yang Ekstra Sabar Namun Tetap Waspada

kewaspadaannya muncul ketika para Warga Binaan Sosial (WBS) sedang kumat dan berhalusinasi sendiri.

Cerita Petugas Panti Orang dengan Gangguan Jiwa yang Ekstra Sabar Namun Tetap Waspada
TRIBUNJAKARTA.COM/NUR INDAH FARRAH AUDINA
Suasana penderita ODGJ di PSBLHS 2 ketika sedang makan sore, Selasa (16/7/2019) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, CIPAYUNG - Kesabaran merupakan kunci utama selain ikhlas saat menghadapi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Kondisi yang belum stabil dan sewaktu-waktu bisa kumat, menjadi kewaspadaan sendiri bagi para petugas pelayanan sosial di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa (PSBLHS) 2, Cipayung, Jakarta Timur.

Nurlaela, Kasatpel Pelayanan Sosial PSBLHS 2 menuturkan kewaspadaannya muncul ketika para Warga Binaan Sosial (WBS) sedang kumat dan berhalusinasi sendiri.

Kondisi tersebut dinilainya kerap membahayakan diri sendiri dan orang yang berada disekitarnya.

"Kalau takut ya enggak. Mereka ini kan di sini sudah fase stabil. Jadi sudah bisa diajak bicara. Tapi memang kita perlu waspada kalau WBS ada yang kumat. Halusinasinya kan tinggi, kalau kita tidak waspada bisa kenapa-kenapa juga," ungkapnya saat dihubungi, Rabu (17/7/2019).

Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa Berdayakan Orang dengan Gangguan Jiwa Bisnis Cuci Steam

Ia menambahkan, ketika dalam kondisi layaknya orang normal dan tidak sedang kumat, penderita ODGJ di PSBLHS 2 mampu membantu segala kegiatan yang ada di panti. Bahkan beberapa dari mereka merasa dipercaya dan menjadi kebanggaan tersendiri ketika disuruh melakukan suatu pekerjaan.

Kondisi WBS yang seperti itu membuat para petugas sosial harus ekstra sabar menghadapi para penderita ODGJ.

ODGJ yang tidak bisa dipaksa, membuat para petugas sosial harus mengayomi dengan perlahan. Sebab ketika WBS merasa dirinya dipaksa maka mereka seolah berontak dan bisa berhalusinasi untuk melukai orang lain.

Sudiyono, petugas lainnya menuturkan, ia selalu memberikan bimbingan pada para WBS dengan sabar dan tak bersuara tinggi. Ia memahami benar kondisi penderita ODGJ ketika mereka mendapatkan bentakan maka memorinya akan mengingat terus.

"Ya memang intinya sabar. Kelebihan mereka ini kan memori mengingatnya kuat. Jadi kalau kita berucap seperti membentak mereka ingat kata-kata yang kita lontarkan, maka sifat mereka jadi tidak baik juga ke kita. Itu akan diingat terus sama mereka. Makanya kalau bicara juga harus hati-hati dan pelan-pelan ketika memberikan arahan," jelas dia.

Saat ini, PSBLHS 2 menampung ribuan penderita ODGJ fase stabil. ODGJ dibagi menjadi dua panti yakni di Cipayung dan Budi Murni.

Para ODGJ di panti ini sudah bisa berkomunikasi dan interaktif ke orang luar. Hanya saja terkadang masih suka berhalusinasi.

Namun pada fase ini, penderita ODGJ sudah mulai mengingat nama aslinya bahkan alamat tempat tinggalnya.

Penulis: Nur Indah Farrah Audina
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved