Hapus Stigma Negatif dan Penularan TB, 360 Murid di Kramat Jati jadi Juru Pemantau Batuk

Stigma penyakit Tuberkulosis (TB) sebagai penyakit yang sulit disembuhkan dan dapat menular kerap membuat penderitanya dikucilkan.

Hapus Stigma Negatif dan Penularan TB, 360 Murid di Kramat Jati jadi Juru Pemantau Batuk
TribunJakarta.com/Bima Putra
Kepala Puskesmas Kecamatan Kramat Jati dr Inda Mutiara, MM di Jakarta Timur, Rabu (17/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Stigma penyakit Tuberkulosis (TB) sebagai penyakit yang sulit disembuhkan dan dapat menular kerap membuat penderitanya dikucilkan.

Kepala Puskesmas Kecamatan Kramat Jati dr Inda Mutiara, MM mengatakan stigma tersebut kian menambah derita pengidap Tuberkulosis yang setiap harinya diharuskan minum obat.

Guna mengantisipasi penularan Tuberkulosis sekaligus memberangus stigma yang membuat pengidapnya dikucilkan, Puskesmas Kramat Jati menggalakan juru pemantau batuk (Jumantuk) di sekolah.

"Tujuannya anak-anak dari awal teredukasi, karena anak kecil itu akan membawa pesan seumur hidup. Ketika ada temannya yang batuk itu di bisa menyarankan agar langsung periksa ke dokter," kata Inda di Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (17/7/2019).

Pasalnya waktu sampai penderita Tuberkulosis sembuh terbilang lama, untuk fase Tuberkulosis biasa saja butuh waktu enam bulan sampai dinyatakan benar-benar sembuh.

Selama enam bulan, penderita Tuberkulosis setiap harinya harus minum obat hingga dia rentan merasa jenuh atau bahkan putus asa tak bisa sembilan pada diri penderita.

"Teman-temannya itu bisa memberi motivasi untuk terus berobat. Tidak menjauhi temannya, selama temannya itu pakai masker di lingkungan sekolah. Jadi enggak dikucilkan," ujarnya.

Meski seluruh pengobatan penderita Tuberkulosis sudah digratiskan pemerintah, Inda menyebut masih banyak penderita yang berhenti berobat.

Dalam hal ini, dukungan yang diberikan orang terdekat jadi poin penting agar penderita terus menjalani pengobatan.

Edukasi sejak dini diharapkan mampu mengeluarkan DKI dari posisi lima besar sebagai Provinsi dengan jumlah kasus Tuberkulosis terbanyak secara nasional.

"Intinya untuk di lingkungan sendiri, di sekolah mereka peduli untuk pencegahan. Kalau batuk bagaimana, itu kan ada etikanya. Jadi harus ditutup, tidak boleh meludah sembarangan," tuturnya.

Sejak dibentuk tahun 2018, hingga kini sudah 7 sekolah di wilayah Kramat Jati yang dibina petugas Puskesmas sebagai kader Jumantuk School.

VIDEO Mengenal Petugas PPSU Kelurahan Ancol yang Hidup Sebatang Kara

Belasan Kader Gugat Gerindra ke Pengadilan, Ingin Diloloskan ke Senayan Hingga 5 Orang Cabut Gugatan

Tujuh sekolah itu yakni SMEA N 6, SMEA, Mahardika, SMPN 50, SMPN 126, Pondok Pesantren Tapak Sunan, 209 Private Vocational School, MAN 6.

"Sekarang jumlahnya ada 360 kader Jumantuk School. Jadi ketika melihat ada anggota keluarganya atau tetangganya mengalami gejala TB bisa langsung ditangani," lanjut Inda. 

Penulis: Bima Putra
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved