Pengakuan Pengamen Salah Tangkap di Cipulir yang Diputuskan Bebas oleh MA

Mereka kemudian dinyatakan tidak bersalah oleh Mahkamah Agung melalui Putusan Nomor 131 PK/Pid.Sus/2016.

Pengakuan Pengamen Salah Tangkap di Cipulir yang Diputuskan Bebas oleh MA
TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas
Pengamen salah tangkap, Fikri ditemui awak media di PN Jaksel pada Rabu (17/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN BARU - Fikri (23) merupakan satu di antara empat korban salah tangkap yang dilakukan pihak Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya.

Pada tahun 2013, ia beserta ketiga temannya dituduh membunuh sesama pengamen anak bermotif berebut lapak pengamen di pinggir kali Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Keempat pengamen itu mengaku mendapat kekerasan fisik semasa berada dalam tahanan kepolisian untuk mengakui kesalahan yang tidak diperbuatnya.

Peristiwa itu bermula saat Fikri menemukan jasad pria terbujur kaku dengan luka di sejumlah bagian tubuh saat pagi hari.

"Itu kejadiannya di bawah kolong jembatan. Jam 6 an pagi. kemudian saya melihat kok ada orang saya pikir orang gila. Pas dilihat bareng anak-anak, jasad itu sudah berlumuran darah," cerita Fikri kepada wartawan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Rabu (17/7/2019).

Fikri, yang pertama kali menemukan jasad itu kemudian melaporkan kepada pihak satpam.

"Saya enggak kenal sama jasad itu, kemudian saya lapor ke satpam. Dari satpam lapor ke polisi. Polisinya minta tolong ke saya buat jadi saksi ke Polda," akunya.

Di sekitar lokasi kejadian, terdapat barang bukti sejumlah senjata tajam.

"Ada golok yang ketinggalan. Waktu polisi cari di kali ada lagi nemu senjata," terangnya.

Halaman
12
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved