Stigma Tuberkulosis Buat Penderita Dikucilkan dan Berhenti Berobat

Meski berstatus sebagai negara dengan jumlah kasus Tuberkulosis (TB) ketiga terbanyak di dunia, stigma yang berkembang justru menyudutkan penderita

Stigma Tuberkulosis Buat Penderita Dikucilkan dan Berhenti Berobat
TribunJakarta.com/Bima Putra
Kepala Puskesmas Kecamatan Kramat Jati dr Inda Mutiara, MM di Jakarta Timur, Rabu (17/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Meski berstatus sebagai negara dengan jumlah kasus Tuberkulosis (TB) ketiga terbanyak di dunia, stigma yang berkembang terhadap TB justru menyudutkan penderita.

Kepala Puskesmas Kecamatan Kramat Jati dr Inda Mutiara, MM mengatakan stigma bahwa Tuberkulosis merupakan penyakit kutukan dan penderitanya harus dijauhi masih dipercaya masyarakat.

"Stigma masyarakat bahwa TB penyakit kutukan itu masih dipercaya. Jadi pasien Tuberkulosis justru dijauhi, bukan malah didukung untuk mendapat pengobatan," kata Inda di Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (17/7/2019).

Padahal masa pengobatan TB paling singkat 6 bulan, sehingga penderita Tuberkulosis butuh dukungan keluarga dan lingkungan selama menjalani pengobatan.

Inda menuturkan masih banyak penderita Tuberkulosis yang berhenti berobat di tengah jalan atau yang dia sebut drop out (DO) karena berbagai macam sebab.

"Enam bulan kan bukan waktu yang singkat, orang pasti juga bosan berobat setiap hari. Belum lagi efek obat ke setiap orang berbeda. Jadi selama pengobatan harus didukung," ujarnya.

Uang Rp 300 Ribu dari Idrus Marham yang Berujung Pemecatan Pengawal Tahanan KPK

Dua Kali Ditabrak Motor, Petugas PPSU Ancol Ini Tetap Gigih dalam Menjalankan Tugasnya

Dia mencontohkan bagaimana stigma yang membuat penderita Tuberkulosis dikucilkan dari lingkungan sosialnya atau bahkan diusir.

Pun penderita Tuberkulosis mengenakan masker, Inda menyebut masih banyak masyarakat yang ogah untuk sekedar berbincang dengan penderita.

"Itu kan malah bisa bikin down. Kalau dia berhenti berobat di tengah jalan nanti bisa kena TB kebal obat atau TB resistensi obat. Sembuhnya lebih lama, paling cepat 18 bulan," tuturnya.

Penulis: Bima Putra
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved