Cerita Suhartono Pendiri Yayasan Jamrud Biru Bekasi Pernah Kena Bacok Orang Gangguan Jiwa

Suhartono, pengelola sekaligus pendiri Yayasan Jamrud Biru, Kota Bekasi menceritakan pengalamannya selama puluhan tahun mengobati orang gangguan jiwa.

Cerita Suhartono Pendiri Yayasan Jamrud Biru Bekasi Pernah Kena Bacok Orang Gangguan Jiwa
TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
Suasana Yayasan Jamrud Biru Bekasi. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, MUSTIKAJAYA - Suhartono, pengelola sekaligus pendiri Yayasan Jamrud Biru, Jalan Asem Sari II, Kelurahan Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi menceritakan pengalamannya selama puluhan tahun mengobati orang dengan gangguan jiwa.

Sejak 2009, Suhartono mendirikan Yayasan Jamrud Biru sebagai tempat untuk mengobati orang dengan gangguan jiwa.

Suhartono pengelola sekaligus pendiri Yayasan Jamrud Biru Bekasi.
Suhartono pengelola sekaligus pendiri Yayasan Jamrud Biru Bekasi. (TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar)

Jauh sebelum itu, ayah tiga orang anak ini merupakan perawat di Panti Rehabilitasi Orang Ganguan Jiwa Yayasan Galuh Bekasi.

"Selama 23 tahun saya bekerja di yayasan yang sama (Yayasan Galuh), karena waktu 23 tahun bukan waktu yang sebentar, saya bekerja mengobati orang dengan gangguan jiwa," kata Suhartono saat dijumpai di Yayasan Jamrud Biru, Kamis (18/7/2019).

Telah bergelut sekian lama mengurus, merawat dan mengobati orang dengan gangguan jiwa rupanya membuat dia iba dan mengenal arti rasa kemanusiaan.

Bahkan tidak jarang dia membawa orang gangguan jiwa yang ditemukan di jalan untuk selanjutnya dirawat di Yayasan Jambrud Biru.

"Saya enggak tega (melihat orang dengan gangguan jiwa), saya kemudian memilih untuk mendirikan yayasan sendiri dengan niat untuk ibadah membantu saudara-saudara kita yang begini supaya bisa sembuh," ungkap dia.

Pahit getir pengalaman telah ia rasakan selama berprofesi sebagai perawat orang gangguan jiwa. Dia mengaku sempat terluka hingga jari kelingkingnya putus akibat dibacok orang gangguan jiwa yang mengamuk.

"Waktu itu ketika saya mau mengamankan dia (pasien gangguan jiwa), kondisi lagi ngamuk bawa golok, pas mau diamanin tahu saya diserang kena jari kelingking putus," tuturnya.

Halaman
1234
Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved