Kabar Artis

Pablo Benua Ngaku Jadi Anggota Kerajaan Thailand, Psikolog Analisa Perilakunya Singgung Soal Fantasi

Sudah resmi ditetapkan sebagai tersangka, kehidupan pribadi dan masa lalu Pablo Benua justru sedag dikulik habis.

Pablo Benua Ngaku Jadi Anggota Kerajaan Thailand, Psikolog Analisa Perilakunya Singgung Soal Fantasi
Warta Kota/Arie Puji Waluyo
Pasangan Rey Utami dan Pablo Benua diperiksa di Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Semanggi, Jakarta Selatan, Rabu (10/7/2019). 

"Bohong itu sesuatu hal yang alamiah. Setiap manusia punya kecenderungan untuk berbohong sebagai mekanisme pertahanan diri," ujar Joice Manurung.

Akan tetapi, apabila perbuatan bohong tersbut dilakukan berulang-ulang, maka itu bisa menjadi gangguan.

"Tapi kalau kebohongan itu bersifat kompulsi, berulang-ulang, konsisten dan kronik jadi habitual atau kebiasaan, maka sudah disebut sebagai gangguan," tegas Joice Manurung.

Gangguan tersebut ketika orang yang berbohong ini tahu kalau dirinya

"Persoalannya orang yang berbohong ini tahu dia berbohong. Cuma dia bisa meyakinkan orang-orang di sekitarnya kalau fantasi yang dia bangun itu nyata," ujar sang psikolog.

Kemudian, ketika melihat postingan Pablo Benua tersebut, snag psikolog menyebut bahwa suami Rey Utami initidak menyadari kalau kebohongannya ini adalah sesutau yang salah.

"Kalau dilihat dalam konteks ini, dia tidak menyadari kalau itu salah. Tapi dia tahu kalau dia berbohong," ujar Joice Manurung.

Ketika melihat tujuan Pablo Benua yang berbohong dan pamer kemewahan itu mengacu pada gangguan mythomania.

"Tujuannya bisa beragam. Ada beberapa indikasi, kalau disebut mythomania (myth=mitos, dan mania=gangguan), itu cenderung tidak punya tujuan spesifik," tutur Joice Manurung.

Farhat Abbas, Pablo Benua dan Rey Utami saat ditemui di Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Selasa (2/7/2019).(KOMPAS.com/DIAN REINIS KUMAMPUNG )
Farhat Abbas, Pablo Benua dan Rey Utami saat ditemui di Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Selasa (2/7/2019).(KOMPAS.com/DIAN REINIS KUMAMPUNG ) (Kompas.com)

"Lebih mencari simpati, kekaguman, atau atensi dari publik. Dan dia tidak punya kelebihan khusus untuk dipuja-puja. Tapi dia menjadi hero karena atensi tersebut. Bahkan dia tak jarang menjadi victim, korban. Dia akan sampaikan kebohongan itu," tambahnya.

Halaman
1234
Editor: Rr Dewi Kartika H
Sumber: Tribun Bogor
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved