Penggalan Cerpen Dibacakan Pada Misa Requem Arswendo Atmowiloto

Jenazah Arswendo Atmowiloto dilapas sekaligus dilaksanakan Misa Requem di Gereja Santo Matius Panginjil, Pondok Aren, Tangerang Selatan

Penggalan Cerpen Dibacakan Pada Misa Requem Arswendo Atmowiloto
TribunJakarta/Jaisy Rahman Tohir
Jenazah mantan wartawan dan sastrawan, Arswendo Atmowiloto dilapas sekaligus dilaksanakan Misa Requem di Gereja Santo Matius Panginjil, Pondok Aren, Tangerang Selatan (Tangsel) Sabtu (20/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, PONDOK AREN - Jenazah mantan wartawan dan sastrawan, Arswendo Atmowiloto dilapas sekaligus dilaksanakan Misa Requem di Gereja Santo Matius Panginjil, Pondok Aren, Tangerang Selatan (Tangsel) Sabtu (20/7/2019).

Romo Setyo, yang memimpin misa, membacakan dua cerpen karya Arswendo di depan ratusan jamaat gereja.

Jenazah mantan wartawan dan sastrawan, Arswendo Atmowiloto dilapas sekaligus dilaksanakan Misa Requem di Gereja Santo Matius Panginjil, Pondok Aren, Tangerang Selatan (Tangsel) Sabtu (20/7/2019).
Jenazah mantan wartawan dan sastrawan, Arswendo Atmowiloto dilapas sekaligus dilaksanakan Misa Requem di Gereja Santo Matius Panginjil, Pondok Aren, Tangerang Selatan (Tangsel) Sabtu (20/7/2019). (TribunJakarta/Jaisy Rahman Tohir)

Pertama, ia membacakan cerpen Arswendo Atmowiloto yang ditulis di koran Kompas pada 2018, berjudul "Jas yang Kawin Dua Kali dan Celana yang Setia."

"Mungkin karena doa itu mempunyai makna, mungkin juga kecemasan yang membuatnya terjaga dan saling memperhatikan, keduanya belum mati-mati juga, setelah tiga kali melewati masa di mana lelaki itu memiliki jas dan istri, sampai sekarang ini," ujar Romo Setyo membacakan.

Ia memaknai cerpen terakhir yang terbit di koran Kompas itu sebagai pemaknaan atas kematian sebagai kegembiraan.

"Sama persis seperti apa yang ingin disampaikan mas Wendo bahwa kematian adalah kegembiraan," ujarnya.

Selain itu, Romo Setyo juga membacakan penggalan cerpen pria bernama asli Sarwendo itu yang berjudul "Suamiku Jatuh Cinta Pada Jam Dinding."

"Sebagaimana kematian adalaj bgaian dari kehidupan. Demikian juga patah hati atau dakit hati adalah bagaian yang sama dengan jayuh cinta. Kalau kau pernah sakit hati, cintamu menjadi sempurna," lanjut Romo Setyo di depan jamaat.

Mengenal Lebih Dekat Para Muadzin Masjidil Haram, Miliki Suara Indah dan Selalu Datang Tepat Waktu

Andritany Cedera Patah Tangan Kiri, Simon McMenemy Akan Cari Penjaga Gawang Baru Timnas Indonesia

Semifinal Indonesia Open: Ahsan/Hendra Lawan Penakluk Fajar/Rian, Marcus/Kevin Vs Duo Menara

Ia menganggap cerpen itu adalah bentuk penafsiran atas keagungan Kristus.

"Cerpen tersebut bentuk nyata bagaimana mas Wendo menghayati demangat keagungan, jatuh cinta kepada Yesus sampai mati dan dihayatu dengan segala perjuangan," ujarnya.

Setelah Misa Requem, jenazah Arswendo langsung diberangkatkan ke Sandiego Hill, Karawang.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved