Komplotan Gojek Tuyul di Tangsel Mengaku Belajar Akali Aplikasi dari Youtube

Keduanya dioperasikan menggunakan GPS palsu sehingga mereka tidak perlu berpanas-panasan turun ke jalan.

TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAN TOHIR
Kasat Reskrim Polres Tangsel, AKP Muharram Wibisono Adipradono bersama salah satu tersangka Komplotan Gojek "tuyul" di Mapolres Tangsel, Senin (22/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, SERPONG - Komplotan Gojek "tuyul" di Tangerang Selatan (Tangsel) yang meraup jutaan rupiah dari mengakali aplikasi Gojek menggunakan GPS palsu mengaku belajar dari Youtube.

Seperti diberitakan TribunJakarta.com sebelumnya, Komplotan itu terdiri dari delapan orang atas nama: Bima Alan Buana Saputra (24), Achmad Arif Febi Ruchyadi (28), Dian Azhari (31), Felix Prastatama Yudian Bangsa (21), Irpan (25), Nadi Asmad (41), Siti Hodijah (35) dan Taupik Kurniawan (47).

Mereka masing-masing memiliki peran yang berbeda dari mulai mempersiapkan peralatan, membuat akun Gojek, mengoperasikan pesanan dan GPS palsu.

Beberapa dari mereka mengoperasikan akun penumpang Gojek, sedangkan bebeberapa yang lain mengoperasikan akun driver.

Keduanya dioperasikan menggunakan GPS palsu sehingga mereka tidak perlu berpanas-panasan turun ke jalan.

Saat gelar rilis kasus tersebut yang dipimpin oleh Kapolres Tangsel, AKBP Ferdy Irawan dan didampingi Kasat Reskrim Polres Tangsel, AKP Muharram Wibisono Adipradono, salah satu tersangka, Dian Azhari diperbolehkan untuk diwawancara para pewarta.

"Belajar dari Youtube. Iya susah ada di Youtube," ujar Azhari kepada awak media, di Mapolres Tangsel, Senin (22/7/2019).

Azhari juga membeberkan aplikasi GPS palsu yang digunakan bernama One Piece yang bisa diunduh dengan mudah.

"Ini aplikasi ini dari handphonenya. Iya namanya One Piece," ujarnya.

Muharram menambahkan, sekali melakukan pemesanan dan penjem poutan hingga pengantaran palsu, Azhari hanya membutuhkan waktu 30 menit.

"30 menit selesai orderan, mulai order, antar, sampai finish di tujuan akhir," ujar Muharram.

Atas perbuatanya kedelapan tersangka itu dijerat pasal 35 juncto pasal 51 ayat (1) dan atau pasal 33 Undang-undang Republik Indonesia nomor 19 tahun 2016 atas perubahan Undang-undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik (ITE) dan atau pasal 378 KUHPidana dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved