Protes Jokowi Berikan Grasi Neil Bantlemen, Arist Merdeka Tolak Hadiri Peringatan Hari Anak Nasional

Meski termasuk satu tamu yang diundang dalam gelaran yang bakal dihadiri Jokowi dan Ibu Negara Iriana Jokowi, Sirait tetap ogah hadir.

Protes Jokowi Berikan Grasi Neil Bantlemen, Arist Merdeka Tolak Hadiri Peringatan Hari Anak Nasional
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia Arist Merdeka Sirait saat ditemui wartawan, Pancoran Mas, Depok, Jumat (8/6/2018).  

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, PASAR REBO - Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak), Arist Merdeka Sirait memastikan tak bakal hadir dalam puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2019 yang digelar di Makassar besok.

Ketidakhadirannya bentuk rasa kecewa terhadap pelaku kekerasan seksual terhadap murid Jakarta International School (JIS), Neil Bantlemen yang mendapat grasi dari Presiden Joko Widodo.

"Enggak, saya enggak ikut. Karena saya kecewa sekali dengan hari anak nasional sekarang, lebih baik saya refleksi diri dengan merenung karena enggak ada gunanya hadir di sana," kata Sirait saat dikonfirmasi di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (22/7/2019).

Meski termasuk satu tamu yang diundang dalam gelaran yang bakal dihadiri Jokowi dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Arist Merdeka Sirait tetap ogah hadir.

Sesalkan Grasi Neil Bantleman, Kuasa Hukum Keluarga Korban Pelecehan Seksual JIS Surati Jokowi

Menurutnya peringatan Hari Anak Nasional tahun ini hanya seremonial belaka karena anak korban kekerasan tak dapat bergembira mendapati pelaku kekerasan bebas.

"Diundang, tapi saya menolak seremoni-seremoni seperti itu. Karena kasihan anak korban kekerasan, disuruh bergembira padahal anak itu tidak bisa bergembira karena masalahnya," ujarnya.

Dia juga memastikan Komnas Anak tak menggelar acara peringatan di markasnya, wilayah Pasar Rebo, Jakarta Timur karena alasan kecewa yang serupa.

Padahal di setiap tahunnya Komnas Anak selalu menggelar acara guna memperingati HAN dengan harapan bisa membuat anak bahagia.

"Menunjukkan wajah tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa terhadap anak-anak korban itu. Baru tahun ini kita enggak buat, karena kita kecewa sekali terhadap pemberian grasi," tuturnya.

Sirait kecewa dengan keputusan Jokowi karena dalam Perppu nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 2 tahun 2002 kejahatan seksual tergolong kejahatan luar biasa.

Dia menilai tak seharusnya Jokowi memberi grasi kepada Neil yang divonis 11 tahun penjara oleh Mahkamah Agung (MA) atau di mata hukum terbukti bersalah.

"Kalau kejahatan luar biasa maka tidak ada pengampunan terhadap itu. Karena beliau sendiri yang mengeluarkan Perpu itu. Disetarakan dengan tindak pidana korupsi, narkoba, dan terorisme," kata Arist Merdeka Sirait.

Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved