Breaking News:

Badan Standardisasi Nasional Harapkan Regulasi UNECE Dapat Untungkan Otomotif Indonesia

Sebabnya UNECE, lanjut Bambang, juga berkolaborasi dengan International Organization for Standardization (ISO).

TribunJakarta.com/Anisa Kurniasih
pengùnjung GIIAS 2018 yang sedang melihat mobil listrik Wuling E100 di ICE BSD Tangerang. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Muhammad Rizki Hidayat

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Bambang Prasetya sebagai Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), berharap regulasi United Economic Commission for Europe (UNECE) dapat menguntungkan industri otomotif Indonesia.

Bambang, sapaannya, menyebut UNECE adalah organisasi internasional yang mampu melakukan penyusunan dan penetapan ihwal standar global yang dibutuhkan para produsen.

Mulai dari onderdil, proses administrasi, dan segala macam komponen kendaraan.

"Rata-rata, produsen otomotif di dunia semuanya mengacu pada standardisasi yang berlaku di internasional," kata Bambang, pada seminar bertema 'Challenge of Future Vehicle Technology and Regulation' di acara Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019, ICE BSD, Tangerang, Selasa (23/7/2019).

Sebabnya UNECE, lanjut Bambang, juga berkolaborasi dengan International Organization for Standardization (ISO).

Bambang berkata, kolaborasi UNECE dengan ISO bertujuan agar komponen otomotif bisa dibuat dalam satu pabrik

Pun dapat digunakan untuk perakitan pada pabrik dan brand lainnya dalam satu grup.

"Kalau perusahaannya mendirikan pabrik di Indonesia, ya pada dasarnya mereka meminta kepada suplaier komponen untuk memenuhi standarnya," jelasnya.

Yang jelas, kata Bambang, pihak BSN selalu mendukung perumusan dan penetapan aturan untuk kendaraan listrik di masa mendatang.

BSN juga turut serta dalam menyiapkan fasilitas teknik dan hal lainnya yang diperlukan untuk pemenuhan regulasi UNECE.

Saat ini, negara-negara Asian-Pacific Economic Cooperation, sambungnya, telah melakukan adopsi regulasi otomotif sesuai regulasi UNECE.

"Total ada 51 regulasi yang telah diadopsi," ucapnya.

Sayang, Bambang tak menyebutkan satu di antara 51 poin regulasi tersebut.

Kata Bambang, Indonesia juga memiliki dua sumber referensi standar otomotif dari Japan Industrial Standards (JIS) dan American National Standards Institute (ANSI).

"Jadi, bukan dari UNECEC saja. Dan kita juga ingin memfokuskan kepada masalah keselamatan. Tentunya kajian standardisasi otomotif tersebut harus saintifik," ujar Bambang.

Penulis: Muhammad Rizki Hidayat
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved