Komnas Anak Harap Pemerintah Beri Perhatikan Lebih ke Anak Broken Home

Anak korban broken home menyaksikan orang tuanya bertengkar atau bahkan jadi korban kekerasan fisik dalam pertengkaran berujung perceraian

Komnas Anak Harap Pemerintah Beri Perhatikan Lebih ke Anak Broken Home
Istimewa/dokumentasi Polresta Tangerang.
Ketua Komnas Anak Indonesia, Arist Merdeka Sirait saat Seminar Anak Berkebutuhan Khusus di Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang, Rabu (9/1/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, PASAR REBO - Masih tingginya jumlah kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia menyertai peringatan hari anak nasional (HAN) yang ditetapkan pemerintah Indonesia setiap tanggal 23 Juli.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak), Arist Merdeka Sirait mengatakan satu korban kekerasan anak namun belum dipahami sebagai korban masyarakat yakni anak broken home.

"Pada pendapat umum broken home dianggap berdiri sendiri. Padahal itu adalah korban, korban dari ketidakharmonisan rumah tangga, kekerasan dalam rumah tangga dan seterusnya," kata Sirait di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (23/7/2019).

Terlepas dari segala penyebab orang tua bercerai, Sirait menuturkan perceraian tak seketika terjadi begitu saja sehingga berdampak besar pada psikologis anak.

Anak korban broken home menyaksikan orang tuanya bertengkar atau bahkan jadi korban kekerasan fisik dalam pertengkaran berujung perceraian.

Keluarga Aria Permana Terharu Donasi Masyarakat Mencapai Rp 150 Juta

BMKG Prediksi Wilayah Jakarta Cerah Berawan Hari Ini, Selasa 23 Juli 2019

"Artinya dia tidak nyaman di rumah akibat dari perlakuan buruk dari orang tua, nah itu salah satu bentuk kekerasan. Definisi kekerasan harus kita lihat dan pilah," ujarnya.

Sirait menyebut masyarakat dan pemerintah Indonesia seharusnya tak menganggap remeh dampak perceraian orang tua bagi anak.

Layaknya korban kekerasan lain, anak broken home berpotensi tumbuh jadi pelaku kekerasan karena pengalaman buruk di rumahnya.

"Itu yang harus diluruskan, anak broken home harus ditempatkan sebagai korban. Sekarang ini belum dikategorikan sebagai korban. Mereka belum dianggap sebagai korban kekerasan," tuturnya.

Penulis: Bima Putra
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved