Breaking News:

Pemerintah Diharapkan Sediakan Trotoar yang Ramah Disabilitas di Daerah Permukiman

Wakil Kepala Sekolah, Vera Dotulong (40) menuturkan kondisi trotoar di kawasan tersebut masih tak ramah disabilitas

TRIBUNJAKARTA.COM/NUR INDAH FARRAH AUDINA
Wakil Kepala Sekolah Vera Dotulong di Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala, Jalan Inerbang, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (22/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Pengurus Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala berharap Pemerintah sediakan trotoar ramah disabilitas di daerah permukiman.

Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala merupakan lembaga pendidikan bagi penyandang tuna ganda netra, yang didirikan oleh sejumah aktivis Gereja Kristen Jawa (GKJ) Jakarta pada tahun 1973.

Yayasan ini letaknya berada di sekitar permukiman warga yakni di Jalan Inerbang, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Wakil Kepala Sekolah, Vera Dotulong (40) menuturkan kondisi trotoar di kawasan tersebut masih tak ramah disabilitas. Sebab beberapa saluran air tak dilengkapi dengan penutupnya.

Akibatnya, beberapa siswanya yang merupakan tuna ganda netra atau mereka yang memiliki hambatan pengelihatan seperti buta atau low vision dan diikuti dengan hambatan lain seperti tuli, reterdasi mental, fisik, autis dan lain sebagainya kerap terjatuh ke dalam saluran air.

"Di kawasan permukiman masih banyak trotoar yang tak ramah disabilitas. Waktu itu ada orang tua siswa yang tuna netra dan anaknya pun sama. Ketika menuju ke sini malah terjatuh di got karena tak ada penutup saluran. Sebenarnya sering hal ini terjadi. Banyak yang terkena kasus serupa," jelasnya saat dihubungi, Selasa (23/7/2019).

Selain itu, kurangnya tanda zebra cross juga menjadi masalah lain. Para anak yang memiliki low vision disertai hambatan lain memerlukan aksebilitas zebra cross.

Anies Baswedan Undang Pelaku Usaha Palestina untuk Pamerkan Produk di Jakarta

VIDEO Pengamen Korban Salah Tangkap di Cipulir Jalani Sidang Perdana di PN Jaksel

Pihak yayasan merasa kewalahan memberikan instruksi ketika zebra cross untuk menyebrang tidak ada.

"Kami berharap Pemerintah juga membuat zebra cross di daerah permukiman terutama di sekitaran yayasan. Sebab zebra cross sangat diperlukan untuk anak-anak seperti mereka," lanjutnya.

Dengan minimnya fasilitas bagi penyandang disabilitas di kawasan permukiman, Vera hanya bisa berharap masyarakat mulai melek lingkungan dan perduli akan hadirnya para penyandang tuna ganda netra.

Sebab ketika fasilitas minim, para penyandang tuna ganda netra sangat memerlukan bantuan masyarakat sekitar.

"Kalau fasilitas minim otomatis mereka minta tolongnya ke masyarakat. Seperti pak/bu tolong bantu saya menyebrang. Namun kadang kala masyarakat justru tak perduli. Untuk itu besar harapan saya untuk kita saling merangkul dan menghargai kehadiran mereka ini," tutupnya.

Penulis: Nur Indah Farrah Audina
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved