Rumahnya Terdampak Proyek Kereta Cepat, Kakek Tatanari Pilih Pulang Kampung

Dia termasuk satu dari sekitar 254 kepala keluarga (KK) warga Tanah Galian, Kecamatan Makasar yang rumahnya terdampak

Rumahnya Terdampak Proyek Kereta Cepat, Kakek Tatanari Pilih Pulang Kampung
TribunJakarta/Bima Putra
Warga Tanah Galian, Tatanari (57) yang rumahnya terdampak proyek pembangunan Kereta Api Cepat saat berbincang di Makasar, Jakarta Timur, Rabu (24/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, MAKASAR - Tatanari (57), warga Tanah Galian RT 11/RW 14 Kelurahan Cipinang Melayu memilih meninggalkan Ibukota dalam waktu dekat karena dalam hitungan minggu rumahnya segera digusur.

Dia termasuk satu dari sekitar 254 kepala keluarga (KK) warga Tanah Galian, Kecamatan Makasar yang rumahnya terdampak proyek pembangunan Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung.

"Sebentar lagi harus pergi, tapi saya enggak mau ngontrak. Saya mau pulang kampung saja, pulang ke Cirebon. Di sana masih ada tanah, tanah saudara," kata Tatanari di Makasar, Jakarta Timur, Rabu (24/7/2019).

Kakek satu cucu yang sudah bermukim di wilayah Tanah Galian sejak tahun 2010 ini mengaku berat meninggalkan rumah semi permanennya diratakan dengan tanah.

Namun dia sadar lahan tempatnya dan sekitar 254 KK lainnya merupakan tanah garapan yang tak memiliki surat tanah atau berkekuatan hukum.

"Memang ini tanah garapan, enggak ada surat-surat seperti Girik atau sertifikat. Makannya uang ganti ruginya itu cuman dihitung bangunan saja, enggak luas lahan," ujarnya.

Ramalan Zodiak Cinta Kamis 25 Juli 2019, Scorpio Alami Ketegangan & Gemini Kurang Beruntung

Marak Warung Jamu Jual Miras di Pejaten Barat, Rata-rata Pembeli Anak Nongkrong Suka Tawuran

Tatanari yang membuka warung nasi di rumahnya itu mengaku diberi uang Rp 186 juta dalam bentuk buku tabungan oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).

Dia setuju merelakan rumahnya karena terbuai ucapan manis pria yang mengaku Direktur PT PSBI bernama Nasir dalam pertemuan antara warga dengan PT PSBI.

"Pak Nasir bilang kita bukan dapat uang ganti rugi, tapi ganti untung. Katanya kita bisa beli rumah baru dari uang itu, tapi uang segitu (Rp 186 juta) kan enggak cukup beli rumah di Jakarta," tuturnya.

Halaman
12
Penulis: Bima Putra
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved