Pemkot Bekasi Sebut Pencemaran Kali Bekasi Berasal dari Hulu di Kabupaten Bogor

Dinas Lingkungan Hidup telah melakukan penelusuran di sepanjang aliran sungai Kali Bekasi hingga hulu di perbatasan Kabupaten Bogor.

Pemkot Bekasi Sebut Pencemaran Kali Bekasi Berasal dari Hulu di Kabupaten Bogor
TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BACHTIAR
Kondisi Kali Bekasi di Rawalumbu Jalan Cipendawa Bekasi. (Dokumen KP2C). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, RAWALUMBU - Memasuki musim kemarau, kondisi Kali Bekasi mulai menghitam dan menimbulkan bau tidak sedap.

Hal ini disebabkan pencemaran limbah yang diduga berasal dari hulu sungai di Kabupaten Bogor.

Hal ini diungkapkan Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi Masriwati, Jumat, (26/7/2019).

Dinas Lingkungan Hidup telah melakukan penelusuran di sepanjang aliran sungai Kali Bekasi hingga hulu di perbatasan Kabupaten Bogor.

Dalam penelusuran itu, air berwarna hitam dan menimbulkan bau tidak sedap.

Pengendara Terjatuh Akibat Luapan Limbah Kelapa, Satpol PP Minta Masyarakat Melapor

"Dari perbatasan sudah tercemar, artinya diduga pencemaran sudah terjadi dari hulu sungai di Kabupaten Bogor," kata Masriwati saat dikonfimasi.

Dia menduga pencemaran yang terjadi di Kali Bekasi berasal dari aktivitas pabrik yang berada di bantaran kali. Kali Bekasi sendiri memiliki hulu dua aliran sungai yakni Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi, keduanya berada di Kabupaten Bogor.

Masriwati mengaku pihaknya sudah bersurat kepada Pemerintah Kabupaten Bogor, Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta Kemeterian Lingkungan Hidup akibat pencemaran Kali Bekasi.

"Ini sudah lintas wilayah kita tidak bisa menindak dan dampaknya bukan hanya warga Kota Bekasi tapi warga yang dialiri Kali Bekasi atau hulunya di Sungai Cileungsi dan Cikeas," jelas dia.

Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C) menilai, fenomena air Kali Bekasi menghitam dan menimbulkan bau tidak sedap sudah terjadi secara berulang beberapa tahun terakhir.

Ketua KP2C Puarman mengatakan, fenomena ini kerap terjadi setiap memasuki musim kemarau.

Debit air sungai berkurang sehingga limbah lebih mendominasi permukanaan air.

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved