Breaking News:

Petugas Bandara Soekarno-Hatta Gagalkan Penyelundupan 216 Burung Lovebird Asal Filipina

Ratusan burung tersebut berjenis Lovebird yang diamankan dari empat orang warga negara Indonesia (WNI)

Penulis: Ega Alfreda | Editor: Muhammad Zulfikar
Istimewa/dokumentasi Balai Besar Karantina Pertanian Bandara Soekarno-Hatta
Puluhan pipa paralon PVC yang digunakan pelaku untuk menyimpan 216 burung Lovebird asal Filipina melalui Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (25/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - 216 burung ilegal asal Filipina ditegah Petugas Balai Besar Karantina Pertanian di Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis (25/7/2019) dini hari.

Ratusan burung tersebut berjenis Lovebird yang diamankan dari empat orang warga negara Indonesia (WNI).

Kepala Pusat Kepatuhan, Kerja Sama dan Informasi Perkarantinaan, Sujarwanto mengatakan, mereka membawa ratusan burung tersebut dimasukan ke dalam pipa paralon PVC.

Pipa pun sudah didesain sendiri untuk dapat menyembunyikan burung di dalam tas ranselnya.

"Modus pelaku kita ketahui dari interogasi pelaku sebelumnya, sampai kita ketahui lagi ada aksi pada dini hari. Jadi di masukan ke dalam pipa," kata Sujarwanto saat dikonfirmasi Kamis (25/7/2019) malam.

Sebelumnya, petugas karantina pertanian Soekarno-Hatta juga berhasil menggagalkan modus yang sama berjumlah 107 burung.

Sujarwanto menjelaskan, penyelundupan burung-burung tersebut melanggar Undang-undang nomor 16 tahun 1992.

Jenazah Bripka RE Sudah Dibawa ke RS Polri, Polda Metro Dalami Kasus Penembakan di Polsek Cimanggis

Bahwa semestinya pengiriman burung-burung itu harus disertakan dengan sertifikat kesehatan hewan dari negara asalnya.

"Penumpang ini dapat dikenakan sanksi denda ratusan juta rupiah dan maksimum tiga tahun hukuman penjara," sambung Sujarwanto.

Bukan hanya soal administratrif, penyelundupan burung berwarna cantik itu juga dapat membawa penyakit dan menyerang tanaman dan hewan ternak di Indonesia.

"Ini berbahaya, buat kesehatan manusia juga ancaman bagi sumber daya alam baik hewan ternak maupun satwa jika burung tersebut tidak sehat, harus waspada," tutup Sujarwanto.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved