Kisah Jodi Bocah yang Sekolah Tanpa Alas Kaki & Baju Kotor Hingga Mandi di Sekolah Menunggu Bantuan

"Makanya mandi dan bersih-bersih di sekolah, saya yang mengurusnya," kata guru SDN Margabakti, Atun Rohayatun kepada Tribun Jabar, Rabu (31/7/2019).

Kisah Jodi Bocah yang Sekolah Tanpa Alas Kaki & Baju Kotor Hingga Mandi di Sekolah Menunggu Bantuan
Tribun Jabar/Ahmad Imam Baehaqi
Atun Rohayatun (kiri) saat menyisir rambut Jodi (kanan) sebelum masuk kelas SDN Margabakti, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, Rabu (31/7/2019). 

Informasi tersebut kemudian disebarluaskan di sejumlah akun media sosial lain.

Sati (60), Jodi (7), dan Rakun (70) berdiri di sekitar rumahnya, di dusun pahing RT 1 RW 3, Desa Margabakti Kecamatan Kadugede Kabupaten Kuningan Jawa Barat, Senin (29/7/2019).
Sati (60), Jodi (7), dan Rakun (70) berdiri di sekitar rumahnya, di dusun pahing RT 1 RW 3, Desa Margabakti Kecamatan Kadugede Kabupaten Kuningan Jawa Barat, Senin (29/7/2019). (KOMPAS TV/MUHAMAD SYAHRI ROMDHON)

Kondisi rumah Jodi yang memprihatinkan Senin (29/7/2019) pagi, Kompas.com melakukan upaya ekstra dalam menelusuri informasi viral tersebut.

Kondisi jalanan menuju tempat tinggal Jodi naik turun karena berada di dataran tinggi.

Setelah melewati aspal, siapa pun yang hendak menuju rumahnya harus memarkirkan kendaraan roda dua atau empat di pinggir jalan.

Mereka kemudian harus berjalan kaki sekitar 100 meter dengan kondisi jalan setapak dan menanjak.

Bocah berusia 7 tahun itu tinggal di Dusun Pahing, RT 001 RW 003, Desa Margabakti, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Dia hidup bersama neneknya Sati (60) dan kakeknya Rakun (70). Dua kakaknya, Dayat (18) dan Mulya (15), juga tinggal bersama kecuali Ani (9) yang tinggal bersama orangtua angkatnya.

Tidak ada kamar mandi di bagian belakang rumah.

Mereka terbiasa buang air kecil dan air besar ke kebun di sekitar rumah.

Saat malam tiba, mereka bertahan hidup gelap gulita selama beberapa tahun dan baru mendapatkan sedikit aliran listrik belum lama ini.

Anak yatim

Sobirin, bapak kandung Jodi, telah meninggal dunia beberapa tahun lalu karena terserang penyakit.

Sementara ibu kandungnya, Ita, sudah kembali berkeluarga. Lima orang itu, Jodi, Sati, Rakun, Dayat, dan Mulya, tinggal di satu rumah.

Ada tiga ruang di dalamnya.

Masing-masing ruang hanya disekat menggunakan tripleks.

Tidak ada besi, tetapi kayu untuk penyangga tiap sudut rumah dan plafon.

Bagian atap yang berbahan genteng bercampur asbes pun banyak yang tampak rusak.

Angin dan air pada saat musim hujan mudah masuk hingga menggenangi permukaan lantai tiap ruang.

Terlebih kamar tidur Jodi yang dekat dapur.

Namun, bukan dapur seperti umumnya, melainkan ruang kecil beralaskan tanah untuk menyimpan tumpukan bata menyerupai tungku dan beberapa potong kayu bakar untuk memasak.

Andalkan bantuan untuk bertahan hidup

Selama 12 tahun, Rakun dan Sati menjaga anak cucunya di rumah sederhana itu.

Setiap hari, mereka harus saling berbagi kesempatan istirahat di dalam bangunan seluas sekitar 3 X 6 meter persegi.

Rakun seorang diri yang menjadi tulang punggung keluarga. Dia pun berkerja serabutan dengan penghasilan yang jauh dari kebutuhan.

Selama ini mereka hanya mengandalkan bantuan pemerintah setiap bulan untuk dapat makan nasi.

"12 tahun di sini. Pokoknya kerja apa aja yang ada untuk makan. Jadi ga ada punya kerjaan yang matok. Makan pun seadanya, kalau asin ya asin (ikan asin), kalau garam ya hanya garam, kalau cabe, ya cabe, ya gitulah," kata Rakun kepada Kompas.com di rumahnya.

Ke sekolah pakai baju kotor

Kondisi itu membuat Rohayatun, salah satu guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Margabakti, Kecamatan Kadugede, merasa prihatin.

Dia tidak tega melihat kondisi Jodi yang penuh keterbatasan.

Rohayatun menceritakan awalnya Jodi sering main ke sekolah menggunakan pakaian bermain yang kotor setiap pagi.

Dia tidak punya sandal sehingga selalu telanjang kaki.

Saat main di sekolah, dia kerap memperhatikan anak-anak sekolah dari luar gerbang.

Akhirnya, sejumlah guru mendekatinya untuk mengajaknya sekolah.

"Kemudian Bu Dini mengajak saya belanja beli baju (seragam). Kami beli baju, belanja semua kebutuhan Jodi. Pas hari Selasa, saya tungguin enggak datang-datang. Tiba-tiba rada siang dia main ke sekolah, dan saya bujuk akhirnya mau," kata Rohayatun kepada Kompas.com di sekolah.

Rohayatun kemudian memandikan Jodi di kamar mandi ruang guru.

Dia menggantikan pakaian bermain yang kotor dengan seragam merah putih yang baru dibeli.

Rohayatun memakaikan sepatu, tas, dan semua kebutuhan belajar Jodi.

Tidak cukup sampai di situ, dia dan sejumlah guru di sekolah itu juga memberikan sarapan untuk Jodi.

"Saya suapin makan pakai ayam. Kata Jodi enak, kalau di rumah makannya pakai lauk asin (ikan asin). Saya sedih. Apalagi pas minum susu, enggak tahu pernah minum susu atau enggak karena minumnya langsung habis tanpa jeda. Sedih banget lihatnya, saya kasihan," ungkap Rohayatun.

Guru olahraga di SDN Margabakti ini menyebut, Jodi berangkat ke sekolah menggunakan pakaian bermain dan belum mandi karena tidak ada air di rumahnya.

Dirinya bersama guru-guru di sekolah rela memandikan Jodi setiap pagi.

Mereka juga yang memakaikan seragam, kaus kaki, hingga sepatu untuk Jodi.

Mereka rela menjadi orangtua asuh Jodi semata-mata hanya ingin memenuhi hak pendidikan bagi Jodi.

Mereka tidak ingin Jodi bernasib sama seperti kakak-kakaknya, kedua orangtua, hingga kakek neneknya, yang tidak sempat mengenyam pendidikan secara memadai hingga tinggi.

Sebagian besar keluarganya putus sekolah.

Bujukan Atun

Atun Rohayatun (24), guru honorer di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Margabakti, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, memiliki hati mulia.

Dia membantu Jodi, bocah yang memiliki semangat tinggi bersekolah tetapi berasal dari keluarga tidak mampu.

Saat itu, Jodi kerap mengenakan baju kotor ke sekolah.

Atun melakukan hal itu semata-mata untuk menarik perhatian banyak pihak agar tergerak hatinya membantu bocah tersebut.

Kepedulian Atun ternyata tidak hanya di media sosial.

Sebelumnya, dia sudah melakukan beberapa hal untuk Jodi.

Selain Atun, guru-guru lain dan kepala sekolah juga bersama-sama memperhatikan kondisi Jodi.

Kepada Kompas.com Atun menceritakan, Kepala SDN Margabakti Edi Junaedi sudah menawarkan Jodi untuk bersekolah.

Jodi pun bersedia.

Lalu, Dini, salah satu guru SDN Margabakti, meminta Atun membelikan baju seragam dan sepatu bagi Jodi.

“Pas Selasa (23/7/2019), kami nungguin Jodi di sekolah. Agak siangan, jam delapan lebih, dia ke sekolah untuk main dan jajan. Saya turun ke tempat jajan dan mengajak Jodi sekolah. Awalnya tidak mau. Saya bilang makanannya saya bawa ke sekolah dan makan sama ibu,” kata Atun kepada Kompas.com melalui sambungan seluler, Selasa (30/7/2019).

Setelah tiba di sekolah, Atun melihat Jodi belum mandi dan mengenakan baju kotor. Jodi berasal dari keluarga yang tidak memiliki kamar mandi dan sanitasi di rumah.

Seketika, Atun tergerak untuk memandikannya.

Atun selalu mengingat betul hari itu, hari pertama dia merasa seperti ibu meski belum menikah dan belum punya anak.

“Dengan Jodi sudah nurut mau dimandikan, ya rasanya seneng banget, rasa keibuannya langsung keluar. Enggak ada rasa jijik atau apa pun. Cuma ya sedih, seneng, terharu, pokoknya campur aduk. Yang di pikiran saya, cuma gimana kalau saya yang ada di posisi Jodi, apa bisa sesemangat Jodi, sekuat Jodi. Dari kejadian ini, saya belajar jadi lebih bersyukur,” ungkap Atun.

Seusai memandikan Jodi, Atun kemudian memakaikan seragam baru untuk Jodi.

Dia kemudian memberikan makan dan memberikan susu bantuan dari guru lain.

Atun melihat, Jodi begitu senang dengan seragam dan sarapannya. Atun juga mengantarkan Jodi untuk pertama kali masuk kelas I, berkenalan, dan belajar bersama teman-teman.

Tidak sampai di situ, Atun harus menunggu Jodi keluar kelas untuk mengganti seragam sekolah dengan pakaian bermain.

Seragam dan sepatu disimpan di sekolah, sementara tas berisi buku dan alat tulis lain dibawa pulang untuk belajar di rumah.

Ini dilakukan agar seragam dan sepatu tidak hilang dan dapat langsung dicuci oleh Atun.

Sejak hari itu, guru yang berasal dari Desa Ciketak, desa tetangga Jodi, memiliki tugas baru.

Selain mengajar, Atun juga memandikan dan menyiapkan seluruh kebutuhan Jodi setiap hari.

Oleh karena itu, Atun harus datang ke sekolah pagi hari.

Awalnya video untuk laporan

Atun Rohayatun adalah guru honorer yang sudah lebih dari satu tahun mengajar mata pelajaran olahraga di SDN Margabakti.

Dia menjadi guru pengganti apabila guru mata pelajaran olahraga sibuk dan berhalangan hadir.

Lulusan STKIP Muhamadiyah Kuningan ini selalu bersyukur meski dibayar tiga bulan sekali dengan upah yang minim.

Dengan pekerjaan barunya “mengasuh” Jodi, Atun tidak merasa terbebani sama sekali.

Bahkan, dia merasa sangat senang dapat membantu Jodi.

Menurutnya, dia dan seluruh guru di SDN Margabakti berupaya memberikan yang terbaik untuk memenuhi hak pendidikan warga setempat dengan layak.

Namun, dia menyadari, upaya maksimal yang diberikan dirinya serta pihak sekolah tetap terbatas.

Menurut Atun, Jodi dan keluarganya membutuhkan banyak bantuan, terutama untuk kebutuhan hidup dan tempat tinggal.

Jodi tinggal bersama kakek-nenek serta dua kakak di rumah yang memprihatinkan, tanpa kamar mandi, sanitasi, dapur, dan lainnya.

Kondisi itu yang membuat Atun memberanikan diri mengunggah informasi dan menceritakan kondisi Jodi di akun media sosial Instagram miliknya, @rohayatun7.

Informasi tersebut kemudian diunggah ulang oleh netizen di sejumlah media sosial lain, seperti Facebook dan YouTube.

Akhirnya video tentang Jodi pun menjadi viral.

Atun mengungkapkan, awalnya dia membuat foto dan video tersebut hanya untuk laporan dan bahan cerita kepada guru-guru lain.

Namun, belakangan dia berpikir barangkali informasi tersebut apabila diunggah dapat membantu Jodi dan keluarganya.

“Awalnya pengin tahu rumahnya, pengin ngasih tahu juga ke neneknya, bahwa Jodi sudah sekolah. Foto dan video (viral) itu juga awalnya dibuat untuk guru-guru. Saya pengin ngasih tahu ini begini jalannya pak menuju rumah Jodi,” ungkap Atun.

Atun tidak menyangka unggahannya mendapatkan banyak dukungan dan simpati dari banyak orang.

Tidak sedikit yang bertanya alamat tinggal Jodi dan berencana memberikan bantuan.

Tidak kurang juga, ungkapan kagum dan doa dari warganet untuk Atun dan Jodi agar terus tumbuh menjadi lebih baik. (Kontributor Kompas TV Cirebon, Muhamad Syahri Romdhon/TribunCirebon/Ahmad Imam Baehaqi)

Penulis: wahyu tribun jakarta
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved