Belasan Tahun Berdiri, Jumlah Anak-anak yang Belajar Rumah Singgah Al Barkah Tetap Stabil

Selain itu, pada tahun 2015 rumah singgah ini sudah berbadan hukum di bawah Yayasan Ummul Hasaneyn.

Belasan Tahun Berdiri, Jumlah Anak-anak yang Belajar Rumah Singgah Al Barkah Tetap Stabil
TRIBUNJAKARTA.COM/NUR INDAH FARRAH AUDINA
Suasana Rumah Singgah Al Barkah di area Terminal Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu (3/8/2019) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, CIRACAS - Belasan tahun berdiri, jumlah anak-anak yang belajar di Rumah Singgah Al Barkah masih stabil.

Raden Supardi atau yang akrab disapa Bang Nur merupakan pendiri dari Rumah Singgah yang diperuntukan untuk semua anak-anak kurang mampu terutama yang berada di are Terminal Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur.

Rumah Singgah Al Barkah resmi didirikan pada tahun 2000 setelah sebelumnya pada tahun 1994 ia pernah menampung gay dan waria di sebuah kontrakan.

Saat orang lain menjauhi dua katagori itu, Bang Nur menampung mereka untuk diberikan bimbingan dan pengarahan.

"Dulu saya tampung gay sama waria. Karena udah enggak ada uang buat nampung mereka dan kerjaan saya cuma pedagang asongan akhirnya udah bubar gitu aja. Kemudian setelah ada modal dan tergerak untuk membuat rumah singgah," katanya saat ditemui, Sabtu (3/8/2019).

Dirinya yang tak punya ijazah SD dan memiliki pengalaman pahit saat keponakannya menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) sekitar 10 tahun yang lalu, membuatnya tergerak untuk memberikan wawasan lebih pada generasi penerus agar mendapatkan pendidikan.

Belasan tahun berlalu dari awal berdirinya, rupanya jumlah siswa yang datang ke rumah singgah tak berkurang.

Setiap Kamis, Jumat dan Sabtu sekitar 50-an anak-anak area Terminal Kampung Rambutan selalu belajar di rumah singgah.

Dengan berpakaian bebas, puluhan anak-anak akam diajari pengetahuan umum seperti Bahasa Indonesia, Matematika dan lain sebagainya serta pendidikan keagamaan di Rumah Singgah Al Barkah.

"Jumlahnya stabil. Ketika ada yang sudah mulai besar diganti dengan yang baru. Jadi segitu-gitu aja. Mereka semua juga ada yang bersekolah dan tidak, tapi semangatnya bisa diacungi jempol," ujarnya.

Selain itu, pada tahun 2015 rumah singgah ini sudah berbadan hukum di bawah Yayasan Ummul Hasaneyn.

Untuk diketahui, cerita perjalanan Bang Nur yang tergerak hatinya untuk membuat rumah singgah sudah pernah diwartakan pada Jumat (22/6/2018) lalu.

Bang Nur menceritakan bagaimana perjalanannya membuat Rumah Singgal Al Barkah.

Pekerjaan apapun dilakukannya mulai dari asisten rumah tangga hingga pedagang asongan.

Penulis: Nur Indah Farrah Audina
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved