Ini Alasan Pengurus SMPN 157 Cipayung, Belum Jual Sabun Sirih Salitu ke Masyarakat Luas

Pembina ekskul IPTEK, Nina Suprihatin menuturkan sabun sirihnya saat ini sudah mulai dikenal masyarakat luar.

Ini Alasan Pengurus SMPN 157 Cipayung, Belum Jual Sabun Sirih Salitu ke Masyarakat Luas
TRIBUNJAKARTA.COM/NUR INDAH FARRAH AUDINA
Pembina ekskul IPTEk, Nina Suprihatin, Sabtu (3/8/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, CIPAYUNG - Dapat apreasi dari masyarakat sekitar, pihak SMPN 157, Cipayung, Jakarta Timur akui masih belum berani mendistribusikan produk sabun sirih ke luar.

Berawal dari banyaknya tumbuhan daun sirih di halaman sekitar Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 157, pihak sekolah melalui pembina ekstrakulikuler Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) menyulapnya menjadi sabun yang diberi nama 'Sabun Sirih Salitu'.

Dijual dengan harga Rp 5 ribu dan Rp 8 ribu, sabun antiseptik alami ini laris manis di lingkungan sekolah maupun warga yang berdekatan dengan sekolah.

Pembina ekskul IPTEK, Nina Suprihatin menuturkan sabun sirihnya saat ini sudah mulai dikenal masyarakat luar.

SMPN 157 Jakarta Sulap Daun Sirih Jadi Sabun Antiseptik

"Padahal pemasarannya paling jauh sama warga sekitar sekolahan aja. Mungkin dari mulut ke mulut akhirnya banyak yang tau. Dari situ banyak yang datang ke sini nanyain kapan adanya sabunnya sampai mau beli dalam jumlah banyak," ungkapnya saat ditemui, Sabtu (3/8/2019)

Tak sampai disitu, sabun sirih juga diajak bergabung dalam program Pengembangan Kewirausahaan Terpadu (PKT) Cipayung. Namun Nina selaku penanggung jawab belum merespon kembali tawaran tersebut.

"Kalau untuk dijual ke luar kita belum sanggup. Kan yang buat ini siswa ekskul IPTEK di luar KBM. Jadi untuk menyetok dalam jumlah banyak kita belum bisa. Sebab kalau mau dijual begitu kita harus sudah punua stok yang banyak dulu," sambungnya.

Selain itu, meskipun aman untuk digunakan sehari-hari dan diakuinya lebih bagus karena menggunakan antiseptik alami, ia masih ragu karena belum memiliki logo halal dan sertifikat BPOM.

Untuk itu, dirinya akan melakukan kordinasi terlebih dahulu dengan pihak Kecamatan Cipayung untuk membantu pengurusan pembuatan sertifikat dan logo tersebut ke Kemenkes dan Kemenag.

Penulis: Nur Indah Farrah Audina
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved