Pilkada Kota Tangsel

Analisa Pengamat Soal Kemungkinan Nur Azizah dan Nur Asia Uno Berpasangan di Pilkada Tangsel 2020

Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai keduanya memiliki kekuatan yang besar.

Analisa Pengamat Soal Kemungkinan Nur Azizah dan Nur Asia Uno Berpasangan di Pilkada Tangsel 2020
WARTA KOTA/ZAKI ARI SETIAWAN
Putri Maruf Amin, Siti Nur Azizah, di Merdeka Hall Intermark BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (23/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG SELATAN - Dinamika kontestasi politik Pilkada Tangerang Selatan (Tangsel) 2020 semakin menarik dengan munculnya nama baru di luar tokoh lokal.

Dua tokoh baru dari luar Tangsel yang sedang santer diperbincangkan adalah Siti Nur Azizah dan Nur Asia Uno.

Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai keduanya memiliki kekuatan yang besar.

"Menarik. Kalau itu berpasangan, patut berhati-hati tuh klannya Bu Atut, karena suka enggak suka ini menghadapi klan besar gitu lho," ujar Adi kepada TribunJakarta.com, Senin (5/8/2019).

Adi menilai di Tangsel, terdapat kekuatan politik besar dari dinasti Banten yang dibangun Ratu Atut Chosiyah.

Dinasti atau yang dalam bahasa Adi disebut klan Bu Atut ini sedang berkuasa dengan Airin Rachmi Diany yang tidak lain adalah kerabatnya sebagai figur.

Sedangkan Nur Azizah disebutnya merupakan klan Ma'ruf Amin dan Nur Asia adalah bagian dari klan Sandiaga Uno.

Kasus Bapak dan Anak Gantung Diri di Bojong Gede, Polisi: Korban Kerap Putus Asa Ingin Bertemu Istri

Pemadaman Listrik Bergilir di Bekasi Diperkirakan Akan Berlangsung Hingga Besok

Adi mengatakan, kekurangan pasangan "Dua Nur" itu karena kedua-duanya sama-sama wanita. Hal itu dianggap kurang seimbang dalam politik.

"Cuma memang kekurangannya, karena sama-sama perempuan gitu. Jadi agak kurang melengkapi. Karena politik itu kan menjaga keseimbanganlah kira-kira. Laki dan perempuan, gitu kan," dosen Ilmu Politik di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Namun kekurangan yang disebutnya itu bisa saja tidak berpengaruh jika keduanya berhasil memikat hati warga Tangsel.

Terlebih selama hampir 11 tahun berdiri, Tangsel tidak menunjukkan gelagat resisten terhadap pemimpin wanita.

Terpilihnya Airin selama dua periode kepemimpinan adalah bukti nyata warga Tangsel bisa menerima wanita sebagai pemimpin.

"Enggak ada, enggak ada resistensi terhadap pemimpin perempuan memang. Yang penting sih kuat-kuatan bagaimana mereka meyakinkan pemilihnya saja," jelas Adi yang juga menjabat Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved